iklan bhayangkara2
Pildun Banner

Kenyang dalam Dusta

Kenyang dalam Dusta

A. Nawawi Maksum, Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso--

Di koridor Asrama Putri Pesantren Nurut Taqwa, Maysaroh atau yang akrab dipanggil May adalah cermin kesabaran yang paling bening. Di saat santriwati lain hidup dalam kecukupan, May berada di titik paling bawah dari kata sederhana. Lemari kayunya yang kusam hanya berisi dua pasang baju bekas pemberian tetangga yang warnanya sudah lama menyerah pada waktu. Namun, meski pakaiannya melarat, lisan May tak pernah berhenti melangitkan ayat-ayat Al-Qur'an.

Siang itu, matahari terasa seperti ingin mengupas kulit. Di sebuah proyek bangunan, Latif, ayah May, sedang memeras sisa-sisa tenaganya. Kulitnya yang legam tampak mengkilap oleh peluh yang dipanggang terik matahari. Dadanya sering terasa sesak, menusuk hingga ke punggung, namun setiap kali rasa sakit itu datang, ia hanya membisikkan satu nama: Maysaroh.

"Kalau aku berobat ke perawat, uang kiriman May bisa terputus," gumamnya sambil terus mengangkut beban kayu dengan tubuh yang kian membungkuk.

BACA JUGA:Di Balik Sunyi Ruang Kelas

Hari itu, ia mendapat sedikit rezeki tambahan. Saat melihat kawan-kawannya menikmati nasi bungkus yang harum, perut Latif melilit hebat. Namun, yang terbayang di matanya bukan makanan untuk perutnya sendiri, melainkan piring May yang mungkin hanya berisi nasi dan taburan garam. Tanpa ragu, Latif bangkit dan memesan sebungkus nasi dengan lauk ayam goreng yang paling besar sebuah kemewahan yang bahkan ia sendiri tak berani impikan.

Ia mengayuh sepedanya yang nyaris rontok menuju pesantren. Sesampainya di gerbang, Latif berdiri ragu. "Mbak, nyuwun sewu... bisa minta tolong panggilkan Maysaroh? Saya bapaknya," ucapnya pada seorang santriwati senior yang sedang berjaga.


Gempur Rokok Illegal--

Santriwati senior itu mengangguk iba melihat sosok ayah yang begitu lelah. Ia melangkah menuju bagian belakang asrama, tempat jemuran baju berada. Di sana, ia melihat May sedang duduk menyendiri di antara lambaian kain-kain basah. May tampak begitu khusyuk; bibirnya komat-kamit, matanya terpejam kuat sedang mentakrir hafalan yang kemarin baru saja ia setorkan kepada Bu Nyai. Dunia seolah berhenti, hanya ada ia dan ayat-ayat Tuhan.

"May, dipanggil bapakmu di depan gerbang," panggil santriwati senior itu lembut.

BACA JUGA:Joki dan Berhala Gelar

May tersentak dan segera berlari. Perjalanan menuju pesantren tadi memang sangat berat bagi Latif. Langit sempat pecah, hujan deras tumpah tanpa ampun. Latif tak punya mantel. Maka, ia mendekap bungkusan nasi itu di balik bajunya yang tipis agar tidak tersentuh air langit, meski punggungnya sendiri dihantam dingin yang menusuk tulang.

Di gerbang, sosok Latif tampak begitu pilu. Ia berdiri menggigil, bajunya melekat basah pada tubuhnya yang semakin kurus. May terhenti, dadanya sesak melihat ayahnya berdiri ringkih di samping sepeda tua yang sekarat itu. Dengan mata banjir air mata, ia meraih ujung kerudungnya yang mulai koyak, lalu menyeka kening ayahnya yang basah oleh campuran air hujan dan peluh perjuangan.

"Bapak... Bapak sudah makan?" tanya May dengan suara pecah.

BACA JUGA:Fenomena Drama Cina, Oase bagi Rakyat di Tengah Himpitan Ekonomi

Sumber: