Anak-anak Dibatasi Bermedsos, Orang Dewasa Dibiarkan Ribut
--
Tujuannya tentu baik: menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak.
Namun ada satu hal kecil yang sering terlewat dalam diskusi ini.
BACA JUGA:Polisi Mau Pulang ke Mana
Sebagian besar kegaduhan di internet sebenarnya bukan datang dari anak-anak.
Melainkan dari orang dewasa.
BACA JUGA:Burung Besi Itu Kalah di Bulusaraung
Mereka yang secara usia seharusnya sudah lulus dari pelajaran mengendalikan emosi. Mereka yang seharusnya sudah terbiasa memeriksa informasi sebelum menekan tombol “bagikan”.
Namun entah mengapa, di media sosial kedewasaan sering menjadi barang langka.
BACA JUGA:Rompi Oranye Itu Akhirnya Dilipat
Di sana seseorang bisa tiba-tiba menjadi pakar segala hal. Pagi membaca satu utas, siang sudah merasa paling memahami persoalan negara.
Di sana juga seseorang bisa sangat marah terhadap sesuatu yang baru saja ia baca lima menit sebelumnya.
Tanpa mengecek sumber. Tanpa memastikan konteks.
BACA JUGA:Ancaman Superflu di Tengah Bayang-Bayang Covid-19
Cukup dengan keyakinan bahwa ia benar.
Kadang yang diperdebatkan pun bukan persoalan besar. Bisa soal selera musik. Soal pilihan makanan. Soal siapa yang paling nasionalis. Bahkan soal hal-hal yang sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupan sehari-hari.
Sumber:




