Burung Besi Itu Kalah di Bulusaraung
--
Gunung itu tidak ikut briefing. Tidak membaca SOP. Tidak peduli bahwa yang lewat adalah misi negara. Ia berdiri saja. Diam. Kokoh. Seperti sejak ratusan ribu tahun lalu.
BACA JUGA:Barcode untuk Polisi Nakal
Dan burung besi itu pun kalah.
Petugas SAR gabungan kini bekerja tanpa lelah. Menyisir medan terjal. Menghadapi cuaca. Melawan waktu. Kita tahu, pekerjaan itu bukan sekadar teknis. Itu juga soal empati. Soal kemanusiaan. Soal menghormati mereka yang pergi saat sedang bekerja untuk negeri.
BACA JUGA:Operasi Zebra 2025 seperti Password WiFi
Peristiwa ini terasa familiar.
Beberapa tahun lalu, Gunung Salak mencatat kisah serupa. Teknologi juga kalah. Keyakinan manusia juga runtuh. Kita berduka. Kita berjanji akan lebih hati-hati. Kita berkata, “Ini pelajaran.”
BACA JUGA:Datang Diam-diam, Pulang Membawa Nama Besar
Lalu waktu berjalan. Pelajaran sering kali ikut terkubur.
Manusia memang makhluk paling pintar di bumi. Tapi bumi tidak pernah mengangkat manusia sebagai penguasa. Alam hanya memberi izin lewat. Sesekali. Dengan syarat: hormat.
BACA JUGA:Indonesia Emas Tak Akan Lahir dari Generasi Narkoba
Mungkin inilah yang kembali diingatkan Bulusaraung.
BACA JUGA:Dari Gatotkaca ke Maung
Bahwa secanggih apa pun burung besi, ia tetap hanya tamu di langit.
Bahwa tugas negara setinggi apa pun, alam tetap punya kata terakhir.
Sumber:
