Nasi Bungkus dan Panggung Sandiwara
A. Nawawi Maksum--
BACA JUGA:Kisah Isma Mufidah, Penyanyi Asal Jepara yang Mengasah Vokal Lewat Musik Religius
Pak Sutik menunjuk ke arah jamaah yang mulai bubar, meninggalkan sampah bekas wadah nasi yang berserakan. "Kita, Mas. Kita tekor biaya transportasi, tekor tenaga, tekor isi perut, dan yang paling parah... kita tekor logika."
Agama itu seperti air bening, pikir Pak Sutik saat melangkah pulang. Tapi di tangan para 'makelar' itu, ia berubah jadi sirup yang terlalu manis, yang bikin orang yang meminumnya jadi diabetes moral.
​​"Lagipula," tambah Pak Sutik sambil menyalakan rokok, "Lucu ya. Katanya mau menjemput berkah, kok ya malah harus bawa bekal? Kayak mau piknik ke hutan saja. Saran saya, buat apa jauh-jauh datang kalau cuma jadi penonton panggung sandiwara? Mending di rumah saja, sholawat sendiri, masak nasi sendiri, makan dengan tenang. Berkah itu bukan datang dari kerumunan yang memeras keringat, tapi dari hati yang jernih saat sujud di rumah sendiri."
BACA JUGA:Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (4): Titik Jenuh Hati yang Terluka
Malam itu, di bawah temaram lampu jalan, Pak Sutik merasa bahwa doa yang paling tulus mungkin bukan yang diteriakkan di atas panggung megah dengan ribuan saksi, melainkan yang diucapkan dalam sunyi oleh mereka yang memilih tidak ikut-ikutan, menolak untuk terus dibodohi.
A. Nawawi Maksum adalah Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nurut Taqwa Cerme, Bondowoso
Note: Tulisan ini adalah karya fiksi. Nama tokoh, tempat, dan kejadian adalah hasil imajinasi penulis dan tidak ditujukan untuk menyinggung pihak mana pun. Segala kesamaan adalah kebetulan semata."
Sumber:




