Surabaya, memorandum.co.id - Gangguan penglihatan dan kebutaan masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Dari sekian penyakit mata yang ada, glaukoma wajib untuk disadari oleh masyarakat. Pasalnya, penyakit glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor 2 setelah katarak di seluruh dunia. Menandai Pekan Glaukoma Sedunia 2023 yang diperingati setiap tahun pada pekan kedua bulan Maret, dokter spesialis mata dr Lydia Nuradianti SpM (K) mengajak masyarakat untuk lebih sadar terhadap glaukoma. Terlebih, 4-5 dari 1000 orang di Indonesia mengidap penyakit yang dapat menyerang seluruh kelompok usia ini. “Masyarakat harus mulai aware (menyadari) dan sadar bahwa penyakit glaukoma itu berbahaya. Yang perlu diingat, kebutaan karena katarak masih bisa disembuhkan, tetapi kebutaan karena glaukoma tidak akan dapat disembuhkan,” jelas anggota Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) ini, Minggu (26/3/2023). Lebih jauh, dokter yang aktif melayani pasien di RS Mata Undaan, RS Mitra Keluarga Pondok Tjandra, dan RS Delta Surya ini menjelaskan, penyebab utama penyakit glaukoma adalah tekanan bola mata yang tinggi. Tekanan bola mata yang tinggi tersebut akibat terjadinya penumpukan cairan di dalam mata, sehingga tekanan bola mata mengalami peningkatan. “Normalnya, tekanan bola mata itu adalah 10-20 mmHg. Di atas itu dapat terserang penyakit mata, salah satunya glaukoma. Karena itu, masyarakat harus cek tekanan bola mata secara rutin. Terlebih, glaukoma ini penyakit yang susah dideteksi lantaran hampir tanpa keluhan,” urainya. Apabila tak segera terdeteksi, maka gejala peningkatan tekanan tersebut semakin menyebar ke seluruh bola mata. Kemudian akan menekan saraf penglihatan yang berakibat pada kerusakan saraf penglihatan. Selanjutnya, akan terjadi penyempitan lapang pandang. Dari sini apabila tidak segera ditangani, maka akan berakhir dengan kebutaan. “Glaukoma dapat menyerang semua usia, mulai bayi baru lahir sampai orang tua,” kata Lydia. Lydia memaparkan, faktor risiko terjadinya glaukoma ada beberapa hal. Pertama, faktor keturunan atau riwayat keluarga glaukoma. Lalu, faktor usia lanjut (40 tahun ke atas insidennya meningkat). Ketiga, miopia (rabun jauh) dan hipermetropia (rabun dekat). Kemudian, faktor pengobatan dengan kartikosteroid jangka panjang, trauma mata, katarak, dan kencing manis dapat memicu terjadinya glaukoma. “Kalau orang tua ada yang kena, maka anaknya harus dicek, karena glaukoma termasuk penyakit bawaan,” tandas alumnus kedokteran Universitas Airlangga (Unair) ini. Ditanya soal gejala pengidap glaukoma, Lydia menyebut, peningkatan tekanan bola mata biasanya timbul perlahan dan kerusakan yang ditimbulkan pun bertahap. Seringkali penderita glaukoma tidak merasakan tanda-tanda atau gejala, hingga tidak menyadari adanya gangguan penglihatan. “Kondisi tersebut bisa disebut glaukoma kronis. Ketika penyakit sudah di tahap yang lebih parah, barulah penderita mulai merasakan gangguan penglihatan,” bebernya. Awalnya, penglihatan tepi atau periferal mulai buram, kemudian hilang. Layaknya sedang melihat di dalam lorong, di mana tidak terlihat apapun di sisi kiri maupun kanan. Hingga akhirnya penglihatan sentral atau fokus hilang juga. “Ada juga jenis peningkatan tekanan bola mata secara tiba-tiba yaitu jenis glaukoma akut,” ucapnya. Gejala-gejala glaukoma akut ini meliputi rasa pusing yang berlebihan, nyeri pada mata, rasa mual, hingga muntah-muntah hebat. Kemudian disusul oleh penglihatan yang mulai terganggu. “Gejala-gejala ini merupakan kondisi gawat darurat yang harus segera ditangani,” tandasnya. Hingga kini, belum ada obat atau terapi di dunia yang dapat menyembuhkan penyakit ini secara total dari penderitanya. Kendati demikian, ada salah satu kunci utama untuk mengatasi glaukoma. Yakni, dengan melakukan deteksi dini. Dengan deteksi dini, kata Lydia, penderita glaukoma memiliki kesempatan untuk menjalani pengobatan atau operasi yang dapat mencegah kerusakan saraf optik mata. Sehingga bisa memperlambat hilangnya penglihatan atau kebutaan. “Pemeriksaan mata idealnya dilakukan setiap 1-2 tahun sekali. Bagi usia 40 tahun ke atas minimal 2 tahun sekali. Sedangkan yang memiliki riwayat keluarga glaukoma, maka pada usia 40 tahun ke atas harus cek tekanan bola mata 1 tahun sekali,” tuntas Lydia. (bin)
Penyebab Kebutaan, Ajak Masyarakat Aware terhadap Glaukoma
Minggu 26-03-2023,17:23 WIB
Reporter : Syaifuddin
Editor : Syaifuddin
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Sabtu 07-02-2026,03:00 WIB
TheoTown Game Pixel Viral yang Diam-Diam Mengasah Otak Pemain
Sabtu 07-02-2026,06:00 WIB
Cegah Curanmor, Polsek Wiyung Pasang Alarm Gratis untuk Motor Warga
Sabtu 07-02-2026,04:00 WIB
Heartopia Resmi Rilis 2026, Game Simulasi Santai Multiplayer yang Jadi Pelarian Gamer
Sabtu 07-02-2026,08:31 WIB
Gudang Barang Pecah Belah di Bubutan Surabaya Terbakar
Sabtu 07-02-2026,07:59 WIB
Isu Penonaktifan PBI JKN, BPJS Kesehatan Pastikan Warga Surabaya Tetap Terlayani
Terkini
Minggu 08-02-2026,01:00 WIB
Tips Menjaga Kesehatan Tubuh saat Puasa Ramadan 2026: Pola Makan, Minum 2-4-2, dan Istirahat Cukup
Sabtu 07-02-2026,22:26 WIB
Polres Pasuruan Gelar Kerja Bakti Dukung Gerakan Indonesia ASRI Bersama Masyarakat
Sabtu 07-02-2026,22:19 WIB
Jelang Angkutan Lebaran 2026, 587 Sarana Kereta Lolos Uji Ramp Check di Surabaya
Sabtu 07-02-2026,22:00 WIB
MU Gaspol! Kalahkan Tottenham, Kemenangan Keempat Beruntun Buka Peluang Bersaing di Papan Atas
Sabtu 07-02-2026,21:35 WIB