Reni Astuti Surabaya, memorandum.co.id - Wakil Ketua DPRD Surabaya, Reni Astuti, menyoroti pencairan bantuan sosial (bansos) oleh Pemkot Surabaya kepada 1.158 nelayan. Dia mendapat aduan bahwa penyaluran bansos tersebut tidak merata. "Bantuan ini bermanfaat dan sudah menjadi kewajiban pemerintah kota terkait penanganan dampak inflasi kenaikan BBM. Namun saya menyayangkan belum merata diterima oleh semua nelayan," ujar Reni, Minggu (11/12). Reni menyebut telah menerima sejumlah pengaduan dari warga metropolis. Ada banyak nelayan di Surabaya yang belum mendapatkan bantuan. "Bagaimana menentukan siapa nelayan yang bisa menerima bantuan? Ada banyak pula petani tambak di wilayah pesisir kota yang belum tercover, karena mereka juga teridentifikasi sebagai pekerja sektor perikanan. Mereka juga terdampak dan semestinya terlindungi dan terbantu," kata alumnus Statistik ITS ini. Seperti diketahui, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi telah menyalurkan bantuan tunai Penanganan Dampak Kenaikan BBM pada Jumat (9/12) lalu. Total ada sebanyak 1.158 nelayan mendapat bansos dengan besaran Rp600 ribu per orang. “Alhamdulillah bagi nelayan yang sudah terbantu, bagi yang belum saya minta pemkot segera menyalurkan juga," tegas Reni. Reni menjelaskan, bantuan tersebut merupakan kewajiban pemerintah daerah sebagai upaya menangani dampak inflasi. Hal ini selaras dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.07/2022 tentang Belanja Wajib dalam Rangka Penanganan Dampak Inflasi Tahun Anggaran 2022. Di sisi lain terkait bantuan sarana prasarana, Reni mengapresiasi penyertaan pemberian delapan unit perahu dan dua unit bantuan alat pembuat kerupuk pada nelayan. "Ini program bagus. Nelayan harus dibantu untuk mengembangkan sektor produktifnya. Terutama pascaproduksi utama. Kalau nelayan setelah mendapat tangkapan laut ada sejumlah komoditasnya yang bisa diolah sendiri, produk kerupuk misalnya," tutur Reni yang sedang menempuh progam doktoral di Unair ini. Catatan selanjutnya disampaikan Reni terkait pemberian bantuan alat nelayan dan alat produksi lain. Sektor inilah yang seharusnya diperbesar perhatiannya oleh Pemkot Surabaya. Sebab, dalam dua-tiga tahun ke depan, lanjut Reni, Pemkot Surabaya harus punya startegi komprehensif untuk mengembangkan sektor nelayan dari hulu ke hilir. "Kita punya garis pantai mulai perbatasan Sidoarjo sampai Gresik. Berapa jumlah nelayan dan petambak yang bisa dikembangkan potensinya," kata legislator PKS tiga periode ini. Untuk itu, Reni mendorong pemkot menginisiasi program pengembangan nelayan Surabaya dengan menggandeng stakeholder yang ada. "Silakan konsultasi dengan pihak pemprov, misalnya. Mereka ada banyak program yang menggarap potensi laut dan pengembangan UKM yang kita Surabaya tidak punya. Atau sinergi dengan tetangga sebelah seperti Sidoarjo atau Gresik atau Pasuruan yang punya industri laut," tandas Reni. (bin)
Reni Astuti Soroti Penyaluran Bansos Nelayan Tidak Merata
Minggu 11-12-2022,10:23 WIB
Reporter : Syaifuddin
Editor : Syaifuddin
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 31-03-2026,13:34 WIB
Amankan Aset Fasum, 18 PSU Pengembang Diserahkan ke Pemkot Surabaya
Selasa 31-03-2026,15:42 WIB
Bak Film Action, Penggerebekan Bandar Narkoba di Sumberbaru Temukan Lima Senpi dan Belasan Sajam
Selasa 31-03-2026,10:26 WIB
Petaka di Balik Kap Mesin: Niat Perbaiki Mobil, Rumah Warga Jember Ludes Dilalap Api
Selasa 31-03-2026,10:46 WIB
Tragedi Lebaran di Pesisir Selatan: Gulungan Ombak Papuma hingga Paseban Telan Korban, 1 Tewas dan 2 Hilang
Selasa 31-03-2026,12:37 WIB
Personel Gugur di Lebanon, Indonesia Desak PBB Bentuk Rapat Dewan Keamanan Darurat
Terkini
Rabu 01-04-2026,08:56 WIB
Cerita Anak-Anak Indonesia Sambut Prabowo di Seoul: Deg-degan tapi Bangga
Rabu 01-04-2026,08:39 WIB
Ketidakpastian Global Bayangi APBN 2026, DJPb Jatim: Waspada Harga BBM Naik
Rabu 01-04-2026,08:22 WIB
Pasca Libur Lebaran, Taman Edukasi BPBD Jatim Ramai Diserbu Anak TK Belajar Siaga Bencana
Rabu 01-04-2026,08:05 WIB