Kali pertama mereka bertemu, ketika itu Niken melihat pentas seni yang digelar di kampus Bambang. Kebetulan mereka duduk berdampingan saat duduk di depan panggung. Rupanya minat yang sama memunculkan chemistry di antara mereka. Belum lama berselang, mereka bertemu lagi saat nonton film di TP. Padahal tidak janjian. Sama-sama sendirian. Sebenarnya mereka duduk berjauhan. Namun, di tengah pemutaran film Bambang nyamperin Niken untuk diajak duduk berdampingan di kursi barisan agak depan yang kosong. Pertemuan ketiga berlangsung di sebuah kafe. Sekeluar dari kafe itulah terjadi korsleting hawa nafsu. Entah siapa yang mengajak dan siapa yang diajak, kaki mereka melangkah ke hotel yang sekompleks dengan kafe tadi. “Kami baru sadar telah berbuat salah setelah melihat bercak darah di sprei kamar hotel. Aku menjerit histeris,” tulis Niken. Niken sangat menyesali kejadian itu. Begitu pula Bambang. Mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Karena itu, mereka sepakat tidak akan saling menghubungi, apalagi bertemu. Tapi, janji tinggal janji. Baru tiga hari tidak bertemu, Bambang menghubungi Niken. “Aku tidak bisa melupakan kejadian sore itu,” katanya. Ternyata tidak hanya Bambang. Niken pun merasakan hal yang sama. Meski begitu, mereka menahan diri agar jangan sampai ada ketemuan. Sampai akhirnya Niken yang sebelum itu secara rutin didatangi tamu bulanan, kali ini terlambat. Terpaksalah mereka bertemu. “Aku yang nemui. Aku menuntut tanggung jawab Bambang,” tulis Niken. Niken sempat kecewa mendengar respons Bambang yang menggampangkan masalah. Dan kini, setelah lewat tenggat empat pekan dan dirinya belum menstruasi, Niken memaksa Bambang mengantarnya memeriksakan diri ke sokter. Ternyata hasilnya positif. Niken spaneng. Bambang nyleleng. “Kita gugurkan saja,” kata Bambang kemudian. Ia mengulangi pendapatnya. “Tidak. Aku tidak akan membunuh anak ini,” kata Niken sampai mengelus perut yang masih terlihat rata. “Lalu, apa yang harus kita lakukan?” “Kita harus segera menikah.” “Itu tidak akan mudah. Harus melibatkan orang tua. Masalahhnya, setujukah mereka?” “Harus kita coba.” Hari itu juga keduanya menemui orang tua Niken. Setelah memperkenalkan diri, Bambang perlahan-lahan menjelaskan apa yang terjadi dan mengutarakan maksud kedatangannya. “Saya bertanggug jawab dan akan menikahi Niken,” kata Bambang di depan orang tua Niken. Tapi, apa tanggapan orang tua Niken? Ibunya, sebut saja Linda, spontan berteriak histeris. Guru SMA itu kemudian pingsan. (jos, bersambung)
Pernikahan karena Telanjur Hamil, padahal Hanya Sekali (2)
Kamis 01-12-2022,10:00 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 18-06-2026,21:06 WIB
Kunjungi Redaksi Memorandum, Wamen HAM Mugiyanto Bocorkan Arah Baru RUU HAM
Kamis 18-06-2026,11:20 WIB
Sinergi Daop 9 dan Pemkab Jember: KA Pandalungan 2 Jadi Motor Baru Pariwisata dan Dongkrak Ekonomi Daerah
Kamis 18-06-2026,13:19 WIB
Niat Rayakan Anniversary Ke-99 Persebaya, Pelajar Tewas Disabet Sajam Saat Lerai Pengeroyokan
Kamis 18-06-2026,14:03 WIB
Lawan Stigma Kuno, Fakultas Farmasi Unair Ajak Gen Z Jadikan Jamu Tren Kekinian
Kamis 18-06-2026,21:07 WIB
Kunjungi Redaksi Memorandum, Wamen HAM Mugiyanto Bocorkan Arah Baru RUU HAM
Terkini
Jumat 19-06-2026,08:47 WIB
Antusiasme Ratusan Pegiat Senam Bio Energi Medical Chi Kung Awali Event Surabaya Fashion Festival 2026
Jumat 19-06-2026,08:26 WIB
Lantik 10 Kades Baru, Bupati Warsubi: Jadilah Energi Baru Penggerak Pembangunan Desa
Jumat 19-06-2026,07:59 WIB
Polsek Balongbendo Perkuat Swasembada Pangan Nasional Bersama Petani
Jumat 19-06-2026,07:14 WIB
Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Candi Pantau Intensif Lahan Jagung di Durungbedug
Jumat 19-06-2026,06:15 WIB