Surabaya, memorandum.co.id - Ramadan disambut penuh sukacita oleh masyarakat Surabaya. Termasuk pedagang bunga khusus untuk berziarah. Sepekan jelang Ramadan, pemakaman umum dipadati oleh peziarah. Tradisi ini menjadi yang paling dinanti oleh para pedagang bunga di kawasan permakaman. Seperti yang terlihat di tempat pemakaman umum (TPU) Rangkah, Jalan Kenjeran, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Simokerto. Mia, salah satunya. Pemilik Mekar Jaya, yang lapaknya berdiri tepat di pintu masuk makam Rangkah. Saat ditemui Selasa (29/3) sore, air wajahnya tampak merona. Meski ada guratan letih, namun dia sepenuhnya bahagia. Mia hampir tidak bisa berhenti melayani peziarah yang hendak memborong bunga 7 rupa. Diakuinya, Ramadan tahun ini menjadi titik penjualan terbesar selama dua tahun terakhir. “Sehari bisa meraup omzet Rp 2 juta. Kalau dua tahun sebelumnya sepi, malahan diobrak sama Satpol PP. Kalau sekarang alhamdulillah dapat berjualan dengan lega,” kata Mia sembari memasang wajah berseri. Untuk memaksimalkan penjualan, Mekar Jaya buka selama 24 jam. Bahkan Mia juga menerjunkan 10 pekerja dadakan. Kemudian disebar di sepanjang TPU Rangkah. Selain itu, Mekar Jaya juga melayani pemesanan. Mia mengungkapkan, sehari bisa mencapai 200 bungkus bunga 7 rupa yang terjual. Per kantong plastik kresek ukuran sedang dihargai Rp 5000. Belum yang membeli borongan mulai Rp 30 ribu – Rp 100 ribu. Tak hanya bunga 7 rupa, lapak Mekar Jaya juga menawarkan perlengkapan lain. Di antaranya dupa, kain kafan, tikar, hingga peralatan untuk mengubur ari-ari jabang bayi. “Ada perbedaan harga. Kalau bulan-bulan biasanya Rp 10 ribu dapat tiga bungkus. Kalau menjelang bulan puasa Rp 5 ribu per bungkus,” bebernya. Mia menjelaskan, usaha ini turun temurun dari keluarga. Telah berdiri sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Mia generasi kedua, setelah ibunya tiada. Bahkan saking menjanjikannya bisnis tersebut, kakak kandung Mia, Nur Hayati banting stir ikut berjualan serupa. “Kakak saya juga berjualan ini. Sebelumnya dia jualan sayur di pasar, tapi kurang menguntungkan. Sekarang lebih tenteram setelah ikut berjualan kembang orang mati,” jelasnya. Mia memprediksi, puncak penjualan bunga berada pada saat malam megengan nanti. Selanjutnya malam lailaitul qadar, dan terakhir menjelang Hari Raya Idulfitri. Kendati terlihat sukses, namun warga Kapas Lor ini merasa jadi pedagang bunga tak sepenuhnya berjalan lancar. Ada kalanya merugi. Terutama saat musim hujan. “Kalau hujan kehujanan, terus kembang banyak yang rusak,” ucapnya. (bin)
Jelang Ramadan, Pedagang Bunga Panen
Selasa 29-03-2022,20:14 WIB
Reporter : Syaifuddin
Editor : Syaifuddin
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 14-05-2026,08:00 WIB
Nekat Melintas, Pemuda Jember Tewas Tergilas KA Sangkuriang di Perlintasan Tanpa Penjaga
Kamis 14-05-2026,13:59 WIB
Gubernur Khofifah Kepincut Keripik Kulit Patin SMKN 1 Tulungagung, Plt Bupati Apresiasi Perhatian Pemprov
Kamis 14-05-2026,12:59 WIB
Film Dokumenter 'Pesta Babi' Tuai Kontroversi Panas
Kamis 14-05-2026,07:00 WIB
Menteri HAM Natalius Pigai Ungkap Missing Link Pemicu Keracunan MBG di Surabaya
Kamis 14-05-2026,10:00 WIB
Misi Kemanusiaan dari Perkebunan: Tiga Aktivis Resmi Nahkodai PDP Kahyangan Jember
Terkini
Kamis 14-05-2026,21:47 WIB
Polres Lamongan Sterilisasi dan Lakukan Body Screening di Gereja
Kamis 14-05-2026,21:38 WIB
Ekspor Pupuk ke Australia Tembus Rp 7 Triliun, Harga Pupuk Dalam Negeri Turun 20 Persen
Kamis 14-05-2026,21:04 WIB
Australia dan Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya Lewat Festival Film
Kamis 14-05-2026,21:00 WIB
Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus, Puluhan Ribu Penumpang Padati Stasiun Daop 8 Surabaya
Kamis 14-05-2026,20:50 WIB