Harga Telur Anjlok, Emil Dardak Dorong ASN dan Program MBG Serap Produk Peternak
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong penyerapan telur peternak untuk stabilisasi harga.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Anjloknya harga telur ayam ras hingga berada di bawah harga pokok produksi (HPP) mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mengambil langkah cepat.
Melalui rapat koordinasi stabilisasi pasokan dan harga telur ayam ras yang digelar Dinas Peternakan Jawa Timur, Pemprov bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan berbagai asosiasi peternak menyepakati penguatan penyerapan telur langsung dari koperasi peternak.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan upaya tersebut merupakan tindak lanjut komitmen bersama BGN agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjaga kesejahteraan peternak.
BACA JUGA:Harga Telur Blitar Anjlok, Jatim Desak BUMD Pangan Pangkas Rantai Distribusi

Mini Kidi Wipes.--
Menurut Emil, harga telur yang berada di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 20.500 per kilogram membuat peternak ayam petelur mengalami kerugian.
Karena itu, Pemprov Jatim berupaya menjaga harga di tingkat peternak agar kembali berada di kisaran Rp 24 ribu per kilogram.
"Kalau harga telur berada di kisaran Rp 20 ribu sampai Rp 20.500 per kilogram, peternak pasti merugi. Karena itu kami ingin memastikan ada langkah konkret agar harga di tingkat peternak bisa lebih baik," ujar Emil, Jumat 5 Juni 2026.
Emil menjelaskan Kabupaten Blitar sebagai sentra produksi telur nasional membutuhkan perluasan pasar ke daerah lain yang masih memerlukan tambahan pasokan.
Salah satu daerah yang berpotensi menyerap pasokan tersebut adalah Kabupaten Nganjuk yang kebutuhan telurnya belum seluruhnya dapat dipenuhi peternak lokal.
"Skema seperti ini sedang kami dorong agar daerah yang membutuhkan pasokan bisa terhubung langsung dengan sentra produksi telur," ucapnya.
Selain itu, Emil menyoroti rantai distribusi yang menyebabkan manfaat program MBG belum sepenuhnya dirasakan peternak. Telur yang dibeli untuk kebutuhan dapur MBG selama ini belum seluruhnya diserap langsung dari peternak sehingga harga yang diterima peternak masih berada di kisaran Rp 20 ribuan per kilogram.
BACA JUGA:Pakar Pidana Unair Sebut Peluang Muncul Tersangka Baru dalam Kasus Korupsi BGN

Gempur Rokok Illegal--
Sementara itu, telur yang sama dapat dijual ke dapur MBG dengan harga sekitar Rp 25 ribu per kilogram.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Jatim mendorong pembelian telur dilakukan melalui koperasi peternak agar nilai tambah dapat dinikmati langsung oleh produsen.
Selain mengandalkan program MBG, Pemprov Jatim juga membuka peluang keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) dalam membantu penyerapan telur melalui pola pembelian kolektif.
"Kami ingin manfaat ekonomi dari setiap pembelian bisa langsung dirasakan peternak. Karena itu, pembelian melalui koperasi menjadi salah satu solusi yang didorong bersama," tegas Emil.
Ia menambahkan kehadiran perwakilan BGN dalam rapat tersebut menunjukkan komitmen pemerintah pusat untuk memastikan program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen penguatan ekonomi rakyat, khususnya peternak ayam petelur di Jawa Timur. (ain)
Sumber:









