Surabaya, memorandum.co.id - Usia tua tidak menghalangi Saniran (67), warga Jalan Siwalankerto Timur Gang 1, Surabaya ini tetap bekerja. Bergelut dengan debu jalan, biasa dilakukan pria asli Jalan Kutisari Selatan ini untuk bisa menghidupi keluarga dari sekadar berjualan balon. Memang tidak bisa dianggap remeh. Dengan teori yang dikuasai untuk bisa mempertahankan balon tetap terbang karena adanya gas dari soda api dipelajarinya secara telaten hingga bekerja selama 11 tahun. Ia pun tidak menyesal ketika 11 tahun lalu tidak bisa bekerja di proyek lagi. Ide berjualan balon itu pun muncul ketika banyak melihat anak-anak bermain di sekitaran rumahnya. Lalu pelan-pelan ia mencari tahu di mana mendapatkan balon itu. Kali pertama ia mendapatkan informasi di kawasan Rangkah. Setelah beberapa kali membeli di sana, ia pun mencari informasi lagi keberadaan toko balon yang tidak jauh dari rumahnya. Akhirnya diperoleh di kawasan Wedoro. Tidak puas dengan hanya di dua tempat itu, Saniran pun mencari yang lainnya. Akhirnya untuk membeli balon yang lengkap di Pasar Turi. Dan itu sudah dilakukannya hingga empat tahun menjadi pelanggan di sana. Sepi dan ramai dagangannya biasa dihadapi Saniran yang keluar rumah mulai pukul 06.30 hingga 20.00 tiap hari. Dengan harga berkisar Rp 10 ribu-Rp 20 ribu, tidak jarang masih tetap ditawar pembeli. Ia pun dengan ramah memberikan balon meski harganya ditawar. “Tidak apa-apa. Yang penting pembeli senang,” ujarnya saat ditemui memorandum.co.id di Jalan Raya Tenggilis ini. Saniran juga menjelaskan, dalam seminggu dirinya berjualan empat hari (Kamis-Minggu). Untuk pendapatan pun selalu ada. “Kamis-Jumat terjual 100 balon. Kalau Sabtu dan Minggu bisa lebih dari 100 balon karena ramai,” ujarnya. Untuk lokasi pun selalu tetap, sesuai hari. Misalnya Rabu dan Minggu (kawasan Tenggilis), Kamis (Makarya Binangun), Jumat (Deltasari), dan Sabtu-Minggu (depan makorem). “Kendala kalau hujan, tidak jualan. Karena balon tidak akan bisa bertahan lama,” ujarnya. Ketika mengisi gas soda api di balon kalaster, pun harus berhati-hati jika tidak ingin celaka. “Harus tepat hitungannya dan hati-hati. Kalau tidak tepat bisa celaka,” pungkas warga kelahiran Nganjuk ini. (fer/udi)
11 Tahun Bertahan Hidup dengan Jualan Balon
Minggu 10-10-2021,20:38 WIB
Reporter : Syaifuddin
Editor : Syaifuddin
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Sabtu 11-01-2025,07:48 WIB
PSS Sleman vs Persebaya: Pantang Remehkan Lawan
Sabtu 11-01-2025,16:35 WIB
Hasil Babak Pertama PSS Sleman vs Persebaya Surabaya: Bajul Ijo Babak Belur, Tertinggal 3-0
Sabtu 11-01-2025,07:35 WIB
Wow! Vinicius Junior Beli Klub Sepak Bola di Portugal
Sabtu 11-01-2025,17:46 WIB
PSS Sleman Menang 3-1 dari Persebaya Surabaya, 2 Gol Bajul Ijo Dianulir Wasit
Sabtu 11-01-2025,12:08 WIB
Seorang Pria Meninggal Dunia Saat Ngopi di Warkop Panceng Gresik
Terkini
Sabtu 11-01-2025,18:41 WIB
Sampaikan Laporan Evaluasi Terakhir, Pj. Bupati: Matur Nuwun Turut Mendukung Saya Membangun Lumajang
Sabtu 11-01-2025,18:10 WIB
Polisi Tingkatkan Keamanan Peternak, Patroli Door to Door Sambang Kandang Sapi
Sabtu 11-01-2025,17:46 WIB
PSS Sleman Menang 3-1 dari Persebaya Surabaya, 2 Gol Bajul Ijo Dianulir Wasit
Sabtu 11-01-2025,17:11 WIB
Kanang Budi: PDIP Mampu Lahirkan Pemimpin yang Jadikan Kebenaran sebagai Landasan Kebijakan
Sabtu 11-01-2025,16:54 WIB