Surabaya, memorandum.co.id - Vaksin AstraZeneca yang diperoleh Indonesia melalui fasilitas COVAX kembali menimbulkan kontroversi. Hal itu disebabkan karena meninggalnya pemuda asal Jakarta Timur usai divaksinasi dengan AstraZeneca. Pemerintah juga telah menghentikan sementara distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca Batch (Kumpulan Produksi) CTMAV547, untuk menguji toksisitas dan sterilitas oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang kemungkinan memerlukan waktu satu hingga dua minggu. Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Muhammad Atoillah Infandiari menekankan dalam kondisi seperti saat ini, acuan utama terpenting adalah menyelamatkan masyarakat luas, serta mengajak masyarakat untuk tidak meragukan efektivitas vaksin Covid-19 yang manfaatnya lebih besar dalam upaya mengatasi pandemi ini. Atoillah yang juga Dosen Kesehatan Masyarakat Unair ini mengatakan, hingga saat ini, berdasarkan data Komnas KIPI belum pernah ada kejadian orang yang meninggal dunia akibat vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Dalam beberapa kasus sebelumnya, meninggalnya orang yang statusnya telah divaksinasi Covid-19 adalah karena penyebab lain, bukan akibat dari vaksinasi yang diterimanya. "Kejadian yang tidak diharapkan bisa saja terjadi. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar manfaat keseluruhan untuk masyarakat. Tunggulah kata ahlinya seperti WHO dan BPOM. Jangan kita mengambil kesimpulan sendiri dan langsung menolak karena menolak vaksin efeknya bisa membahayakan orang lain," paparnya. Pemerintah, lanjut Atoillah, sudah semestinya mengambil kebijakan yang mengedepankan kepentingan orang banyak, serta tidak menjadikan satu-dua kasus sebagai pegangan mengambil kebijakan. Karena menurutnya, vaksin AstraZeneca sejauh ini terbukti aman berdasarkan rekam jejak penggunaannya secara global. Selain itu, penyebab kematian tersebut masih dalam investigasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-imunisasi (Komnas KIPI), lantaran belum ada kesimpulan akhir apakah peristiwa tersebut berkaitan langsung dengan vaksinasi. "WHO mengatakan AstraZeneca bisa diteruskan dan menyatakan vaksin ini aman. Kejadian itu juga belum terbukti efek dari vaksin. Penggunaan vaksin AstraZeneca harus tetap berjalan dikarenakan vaksinasi Covid-19 membawa manfaat lebih besar, jadi masyarakat tidak perlu ragu karena vaksin ini aman," terangnya. Atoillah menyebutkan, penggunaan vaksin AstraZeneca memang sempat dihentikan sementara di beberapa negara Eropa pada akhir Maret lalu karena dugaan pembekuan darah. "Namun kejadian pembekuan darah setelah pemberian vaksin AstraZeneca ini masih dalam kategori ‘sangat jarang terjadi. Jadi, efek samping yang jarang terjadi setelah vaksinasi jauh lebih kecil dibandingkan dengan risiko kematian yang berpotensi terjadi akibat infeksi Covid-19," pungkasnya. (mg1)
Epidemiolog Imbau Publik Tak Panik soal Vaksin AstraZeneca
Kamis 20-05-2021,14:11 WIB
Reporter : Aziz Manna Memorandum
Editor : Aziz Manna Memorandum
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Rabu 22-07-2026,14:36 WIB
Sidang Ke-5 Kasus Maidi Madiun Cs (8): Para Saksi Kompak Bantah Maidi Pernah Minta Fee atau Uang Proyek
Rabu 22-07-2026,22:18 WIB
Sidang ke-5 Kasus Maidi Madiun Cs (9): JPU KPK Soroti Selisih Dana CSR TPA Winongo
Rabu 22-07-2026,20:16 WIB
Lima 'Pasti' Tips dari Kemenhaj Surabaya agar Jemaah Terhindar Travel Haji dan Umrah Abal-Abal
Rabu 22-07-2026,21:09 WIB
Bakkah Travel Tawarkan Diskon hingga DP Nol Rupiah di Umrah Haji Expo 2026
Rabu 22-07-2026,21:10 WIB
Tiga Tersangka Korupsi Bank Pelat Merah Ditahan, Kerugian Negara Capai Rp2,9 Miliar
Terkini
Kamis 23-07-2026,13:33 WIB
Simpanan Anggota KPRI Sejahtera Tak Bisa Dicairkan, DPRD Jombang Desak APH Usut Tuntas
Kamis 23-07-2026,13:02 WIB
Ulama Bojonegoro Dilibatkan Sebarkan Edukasi JKN hingga Tingkat Desa
Kamis 23-07-2026,12:06 WIB
Dream Tour Tawarkan Fasilitas Kereta Cepat dan Promo Diskon Umrah hingga Rp2 Juta
Kamis 23-07-2026,12:02 WIB
Ramaikan Pameran Haji Umrah Expo 2026, Peserta Live Dance Unjuk Penampilan di Hadapan Juri
Kamis 23-07-2026,11:41 WIB