Oleh Arief Sosiawan Pemimpin Redaksi Lebaran atau Idulfitri yang tahun ini jatuh pada 13 Mei 2021 penanggalan Masehi, masyarakat dilarang mudik lagi. Pemerintah memutuskan larangan ini dengan tujuan menjaga sebaran virus corona (Covid-19) melonjak kembali pascawabah itu mulai sedikit teratasi. Tak terbayangkan perasaan kaum muslimin atas larangan ini. Apalagi, ini tahun kedua meski masih ada kelonggaran berbatas jarak dan zona. Artinya, larangan itu kembali memastikan banyak keluarga muslim tidak dapat berjumpa dan bersilaturrahmi pada hari yang penuh berkah. Pada hari yang fitri, hari yang menurut kaum muslimin sebagai hari yang suci. Tak terbayang perasaan seorang anak tidak bertemu ibu dan ayah, kakak, adik, paman, bibi, serta handai taulan tercinta yang tinggal jauh di seberang sana. Sehingga, larangan mudik yang bertujuan menekan sebaran Covid-19 dan kini menjadi trending topic memberi makna lain. Yaitu, hidup haruslah bersih. Bersih jiwa raga, bersih lingkungan, bersih hati, bersih pikiran. Larangan ini tegas, mengikat, dan final. Pasti dilaksanakan pemerintah dengan sebenar-benarnya. Alhasil, warga atau rakyat harus patuh mengikutinya. Gak ada kata gak setuju meski mereka tidak sreg menjalankannya. Gerakan larangan itu kini sudah terbukti. Di berbagai sudut kota kini sudah nampak ada penyekatan dan sweeping. Mereka yang melanggar, oleh aparat langsung diminta putar balik ke kota asal. Semua itu berawal dari wabah Covid-19 yang melanda dunia, termasuk di negeri ini. Tak hanya larangan mudik, imbauan untuk melaksakan salat Idulfitri di rumah seperti kata menteri agama juga kembali digaungkan. Salat satu tahun sekali yang biasanya dijubeli warga atau rakyat itu dipandang berbahaya karena bakal menjadi klaster baru Covid-19. Tentu persoalan ini juga gak kebayang perasaan kaum muslimin dalam menghadapinya. Muncul pertanyaan besar, apa larangan mudik dan imbauan salat Idulfitri di rumah dalam kondisi seperti ini layak disebut teror? Atau sebaliknya, larangan itu justru menempatkan posisi pemerintah sebagai pelindung warga atau rakyat? Pertanyaan berikutnya muncul, apakah Covid-19 tidak akan berakhir? Sebaliknya kalau berakhir, apa bisa tuntas tas…tas…tas… tanpa lagi menghantui untuk kehidupan berikutnya? Nah menjawab berbagai pertanyaan itu, jawabannya pasti bisa. Dilihat dari upaya keras pemerintah selama ini, seharusnya problem Covid-19 sudah selesai lewat gerakan vaksinasi. Tegasnya, Covid-19 sudah tuntas karena vaksinasi. Jadi, larangan mudik dan imbauan salat Idulfitri di rumah tahun ini bisa menjadi larangan terakhir. Tinggal menunggu tuntasnya gerakan vaksinasi pada akhir tahun ini.(*)
Menunggu Larangan Terakhir
Sabtu 08-05-2021,11:11 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Rabu 28-10-2026,13:58 WIB
AKBP Edy Herwiyanto Dikabarkan Diperiksa Propam Polri
Rabu 28-10-2026,11:17 WIB
Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Madiun, Pakar Unesa Soroti Ancaman Hukuman Mati
Rabu 28-10-2026,18:29 WIB
Piek Budyakto Gantikan Rudy Saladin, Kodam V/Brawijaya Teguhkan Soliditas
Rabu 28-10-2026,21:14 WIB
Kredit Macet Pajero di Kediri Berakhir Damai, Mizuho Leasing Ingatkan Risiko Pidana Pengalihan Fidusia
Rabu 28-10-2026,21:44 WIB
Jaksa Bongkar Simpanan 5,298 Gram Sabu, Ekstasi, dan Ketamin Jackson Tanzil di Apartemennya
Terkini
Kamis 29-10-2026,10:47 WIB
Bhabinkamtibmas Sine Ajak Warga Optimalkan Pekarangan, Dukung Ketahanan Pangan Keluarga
Kamis 29-10-2026,10:31 WIB
Polisi Peduli Pendidikan, Kapolres Ngawi Kunjungi SMK PGRI 1 Dorong Pembentukan Karakter Pelajar
Kamis 29-10-2026,10:24 WIB
Polisi Sigap, 8 Korban Elf Rem Blong di Gotekan Pacet Dievakuasi ke Rumah Sakit
Kamis 29-10-2026,10:10 WIB
Bawa 7 Tuntutan, Demo HMI Tuban Desak Audit Dana BOS hingga Evaluasi Kinerja Dinas Pendidikan
Kamis 29-10-2026,09:59 WIB