Sumenep, memorandum.co.id - Puluhan buruh harian lepas perusahaan PT Garam Sumenep mengeluhkan keterlambatan upah pekerja yang berasal dari Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep. Puluhan buruh harian lepas PT Garam mengeluhkan kebijakan perusahaan dinilai tidak konsisten terhadap para buruh berasal dari Kecamatan Saronggi, Sumenep. Ketidakkonsistenan itu semenjak diberlakukan masa karantina di kecamatan tersebut. Di mana ketika lockdown semua buruh diminta tidak masuk kerja, namun dua hari kemudian dipaksa bekerja meski masih menjalani masa karantina pertama. "Karena buruh takut diberhentikan terpaksa masuk dengan mencari jalan tikus untuk masuk bekerja," ujar AH, salah satu buruh PT Garam asal Kecamatan Saronggi, Sumenep, Rabu (7/10/2020). Setelah sempat libur dua hari kemudian masuk kembali karena takut tidak mendapatkan upah buruh terpaksa masuk meski wilayahnya masuk masa karantina. Kemudian hari masuk kerja buruh mendapat upah hanya Rp 250 ribu itu bayaran bekerja selama empat hari. Takut kejadian sama terulang buruh tetap masuk hingga sekarang meski wilayahnya diperpanjang masa karantina. "Namun kenyataannya sampai sekarang buruh tidak kunjung mendapat upah dengan alasan tidak jelas," tegasnya. Para buruh yang nekat bekerja karena dihubungi mandor mendapat instruksi dari atasannya. Yang dia heran kenapa buruh dipaksa masuk padahal wilayahnya masih diperlukan karantina. "Kalau saya sudah pasrah diberhentikan hanya saja teman-teman takut tetap nekat masuk karena takut diganti," pungkas AH. Sementara iut, Humas PT Garam Miftahol Arifin mengakui, jika belum membayar upah kepada buruh dari Kecamatan Saronggi karena masih menunggu surat dari manajemen. "Karena kalau tidak ada surat itu kami belum bisa mencairkan uangnya,"katanya. Dia membantah kalau buruh asal Kecamatan Saronggi, saat sekarang menjalani masa karantina dipaksa masuk bekerja. Karena sudah menyiapkan pengganti sementara sebanyak 60 orang. Dan untuk pembayaran sekaligus pengganti sedang diusulkan kepada pihak manajemen hingga sekarang masih diakui belum turun. Dan nanti apabila masa karantina sudah selesai tetap bekerja kembali. "Jadi intinya kami tidak menahan uang mereka hanya terkendala administrasi saja," pungkas Miftahol Arifin. (uri/fer)
Upah Buruh PT Garam Tidak Dibayar
Rabu 07-10-2020,19:29 WIB
Reporter : Ferry Ardi Setiawan
Editor : Ferry Ardi Setiawan
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 01-03-2026,22:12 WIB
Serangan Israel AS ke Iran Bikin Selat Hormuz Ditutup, Ini Dampaknya bagi Indonesia
Minggu 01-03-2026,17:17 WIB
Travel Umrah di Surabaya Pastikan Keberangkatan Jemaah Tetap Aman, Tak Terdampak Dinamika Timur Tengah
Minggu 01-03-2026,15:38 WIB
Kemenhaj Jatim: Jemaah Umrah Tak Perlu Panik, Penerbangan ke Arab Saudi Masih Aman
Minggu 01-03-2026,13:26 WIB
Porsi MBG di Jember Disunat, Widarto: Jangan Rampas Hak Gizi Anak Demi Keuntungan Oknum!
Minggu 01-03-2026,16:57 WIB
Prediksi Persebaya vs Persib, Bajul Ijo Bertekad Patahkan Dominasi Maung Bandung
Terkini
Senin 02-03-2026,13:18 WIB
Soroti RKPD Kota Madiun 2027, Ngedi Nilai Data dan Fokus Program Belum Tajam
Senin 02-03-2026,13:14 WIB
Dampak Perang AS-Israel vs Iran, BBM Langka hingga Inflasi Pangan
Senin 02-03-2026,13:14 WIB
KAI Commuter Perpanjang Rute Supas hingga Probolinggo, Tiket Cuma Rp8.000
Senin 02-03-2026,13:11 WIB
Gerak Cepat Polres Ngawi Ungkap Kasus Pencurian di SDN 2 Cangakan, Dapat Apresiasi Kepala Sekolah
Senin 02-03-2026,13:08 WIB