SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID – PT Dharma Lautan Utama (DLU) menguji kesiapsiagaan awak kapal dan tim penyelamat melalui simulasi penanganan kebakaran kapal Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa 3 November 2026, sebagai bagian dari Kampanye Keselamatan Pelayaran menjelang angkutan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru).
BACA JUGA:Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana, The Alana Malang Gelar Simulasi Fire Drill Berkala
Simulasi diawali dengan penanda "Kode Matahari Terbit" yang menggambarkan munculnya api dari dalam dek kapal.
Awak kapal langsung melakukan pemadaman awal menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), sementara kapten melaporkan kondisi darurat kepada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Perak.
Tim penyelamat kemudian bergerak menuju lokasi dengan mengerahkan kapal pemadam dan armada Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Sejumlah penumpang yang diskenariokan terjun ke laut juga dievakuasi menggunakan sekoci.
BACA JUGA:PELNI Beri Diskon Tiket Kapal 30 Persen saat Libur Nataru 2026-2027
Operasi penyelamatan melibatkan Basarnas, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), TNI, dan Polri sebelum seluruh rangkaian latihan ditutup dengan "Kode Matahari Terbenam".
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Samsudin mengapresiasi pelaksanaan kampanye keselamatan dan simulasi tersebut.
Menurutnya, budaya keselamatan pelayaran harus menjadi tanggung jawab bersama, mulai regulator, operator, fasilitator, hingga pengguna jasa transportasi laut.
"Kita berharap ke depan, semua stakeholder dapat tumbuh menjadi sebuah budaya. Safety first bukan lagi sekadar slogan," ujarnya.
BACA JUGA:Kebakaran Hutan Pinus di Kendal Ngawi, 0,2 Hektare Terdampak, Api Berhasil Dipadamkan
Samsudin menegaskan, keselamatan merupakan prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan dengan kepentingan ekonomi maupun target operasional.
Karena itu, simulasi kebakaran dan evakuasi penumpang penting untuk mengukur kesiapan awak kapal, kelayakan peralatan keselamatan, kecepatan pengambilan keputusan, serta koordinasi antarinstansi.
Ia juga menyoroti empat aspek yang harus diperhatikan operator pelayaran, yakni kesiapan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan berkelanjutan, sarana dan prasarana keselamatan, kepatuhan terhadap ketentuan muatan, serta penguatan koordinasi lintas instansi.