Tamu Culas di Rumah Sendiri

Sabtu 24-10-2026,07:05 WIB
Reporter : Ahmad Syaiku
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Di langit Kalimantan dan Sumatra, kemarau tidak pernah datang membawa angin yang bersih. Ia selalu membawa warna yang akrab kita kenal: kelabu yang menahun, menyerupai taplak meja kedukaan yang dibentangkan di atas ubun-ubun kita. 

BACA JUGA:Ketika Ketua NU Menyeberang Pagar

Di balik tirai asap itu, ada ribuan anak batuk di ruang-ruang tunggu puskesmas, ada sekolah-sekolah yang terpaksa meliburkan tawa, dan ada paru-paru yang dipaksa menyerah pada karbon.

BACA JUGA:Kalah Bersaing, Kok Merusak?

Kita tahu, di negeri ini, bencana sering kali punya dua wajah. Yang pertama adalah amuk cuaca, takdir langit yang kering. Yang kedua adalah tangan-tangan yang dengan sabar menunggu keringnya cuaca untuk menyalakan korek. 


Mini kidi--

Di atas abu dan arang yang tersisa di tanah gambut yang menyimpan karbon jutaan tahun sering kali kita melihat keajaiban administratif: tanah yang hangus mendadak berubah status perizinannya, lalu diratakan oleh alat berat untuk ditanami satu komoditas tunggal yang perkasa: sawit. Rupanya, api punya bakat ajaib sebagai pembuka jalan tol menuju kebun monokultur.

BACA JUGA:Ketika Sabda Guru Mengalahkan Nabi

Kita hidup di era di mana segala sesuatu diukur dengan kecepatan dan angka. Di meja-meja rapat ber-AC dingin, membakar atau membiarkan api merambat dianggap sebagai efisiensi tingkat tinggi. Negara, dalam banyak hal, sering memilih menjadi penonton yang sopan. Hukum kita berlaku bagai gunting tumpul: ia tajam merapikan rumput liar di pekarangan rakyat kecil, tapi tumpul seketika saat berhadapan dengan dahan-dahan beton milik para pemodal.

Tapi marilah kita menengok lebih dalam, melampaui hiruk-pikuk undang-undang yang ditafsirkan lentur demi memenangkan laba. Ada sesuatu yang lebih fundamental yang telah kita cederai: cara kita memandang semesta.

BACA JUGA:Data Manis, Bondowoso Menangis

Masyarakat adat sejak dulu tahu, hutan bukan sekadar deretan kayu yang menunggu ditebang untuk dijadikan meja direksi. Hutan adalah ibu. Ia tempat air disimpan dan harmoni dirawat.

Dalam khazanah Islam klasik, para ulama seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin telah lama mengingatkan pentingnya menjaga kemaslahatan publik dan merawat lingkungan dari kerusakan. Namun, modernitas datang dengan pongah, membawa pandangan antroposentris: alam dianggap sekadar objek mati, gudang logistik raksasa yang boleh dikuras sampai dasarnya rata. 

BACA JUGA:Ketika Paru-Paru Bumi Mulai Sesak

Manusia modern merasa dirinya paling pintar, padahal ia hanya tamu culas yang numpang ngopi tapi malah membakar rumah yang ditumpanginya.

Kategori :

Terkait

Sabtu 24-10-2026,07:05 WIB

Tamu Culas di Rumah Sendiri

Sabtu 10-10-2026,08:10 WIB

Ketika Sabda Guru Mengalahkan Nabi

Sabtu 03-10-2026,07:04 WIB

Data Manis, Bondowoso Menangis

Sabtu 19-09-2026,05:00 WIB

Ketika Paru-Paru Bumi Mulai Sesak

Sabtu 12-09-2026,06:00 WIB

Air Mata di SPBU