JEMBER, MEMORANDUM.CO.ID - Ancaman penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melanda Kabupaten Jember dengan skala yang kian mengkhawatirkan. Hingga minggu ke-37, lonjakan kasus secara mengerikan telah menembus angka 2.893 penderita. Di tengah gempuran wabah ini, bayang-bayang kelam pandemi masa lalu kembali menghantui.
Dokter Spesialis Paru RSD dr. Soebandi Jember, dr. Wahyu Agung Purnomo, mengungkapkan bahwa badai ISPA kali ini diduga kuat dipicu oleh fenomena serangan biologi virus Influenza A, termasuk strain H1N1—jenis virus ganas yang pernah melumpuhkan dunia pada 2009 silam.
BACA JUGA:BPJS Kesehatan Gelontorkan Rp 100 Triliun untuk Biayai 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung
Ganasnya penyebaran virus ini memaksa 566 pasien tumbang dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD hingga puskemas yang tersebar di wilayah Jember.
Mini kidi--
"Penyebab untuk yang kali ini adalah virus, terutama Influenza A yang diduga kuat menjadi dalang utamanya," ujar dr. Wahyu saat ditemui di Poli Paru RSD dr. Soebandi, Jumat 2 Oktober 2026.
BACA JUGA:Penyakit Mirip Flu Jangkiti 10 Kecamatan di Situbondo, Kendit Tertinggi dengan 14 Kasus
dr. Wahyu menjelaskan bahwa Influenza A memiliki berbagai varian mematikan berdasarkan kombinasi Hemaglutinin (H) dan Neuraminidase (N), dengan H1N1 sebagai salah satu yang paling diwaspadai karena jejak sejarahnya yang kelam.
"H1N1 ini punya rekam jejak kelam, pernah menjadi outbreak atau wabah besar dunia pada 2009. Karena itulah strain ini dikenal juga dengan Influenza A PDM 09," terangnya dengan nada penuh kewaspadaan.
Sifat virus musiman ini bagaikan 'musuh yang tak terlihat'. Menular begitu cepat melalui udara, virus mengincar dan menyerang saluran pernapasan warga tanpa disadari.
BACA JUGA:BNPB: 94 Korban Meninggal Saat Pengungsian Mayoritas Lansia dengan Penyakit Kronis
"Sifatnya seasonal atau musiman. Karena tak Tampak dan ditularkan bebas melalui udara ke saluran pernapasan, penularannya terjadi dengan sangat cepat dan masif," tambahnya.
Dalam cengkeraman wabah ini, kelompok yang paling rapuh—seperti balita dan lansia—menjadi sasaran paling rentan. Daya tahan tubuh yang belum sempurna atau terus merosot membuat mereka dengan mudah bertaruh nyawa saat diserang gejala seperti demam tinggi, batuk parah, pusing hebat, dan flu berat.
"Balita dan lansia berada di garis terdepan risiko ini. Saat benteng kekebalan tubuh mereka lemah, virus akan dengan sangat mudah menginfeksi dan melumpuhkan mereka," tegas dokter yang akrab disapa Wahyu tersebut.
Gempur Rokok Illegal--