"Capek pasti, karena setelah pulang kerja jam setengah tiga, saya langsung lanjut PKL di rumah sakit. Itu berlangsung sekitar satu bulan, jadi memang harus pintar-pintar membagi waktu antara kerja dan kuliah," ungkap perempuan kelahiran 2001 tersebut.
Namun, pengalaman kerja justru membantu Anis menyelesaikan penelitian. Aktivitasnya di puskesmas memberikan gambaran nyata mengenai persoalan gizi yang dipelajari selama perkuliahan.
"Setelah kuliah S1 di Unusa, saya merasa mendapatkan perspektif baru tentang gizi. Jadi bukan hanya ilmu yang saya dapatkan saat D3, tetapi ada pemahaman baru yang kemudian bisa saya terapkan juga di tempat kerja," tuturnya.
Di sisi lain, Wisuda ke-22 Unusa juga mencatat cerita keberagaman. Dari 1.038 wisudawan, sebanyak 14 orang merupakan lulusan non-Muslim dan 11 di antaranya atau 78,6 persen meraih predikat lulus dengan sangat memuaskan.
BACA JUGA:Wagub Emil Dardak Ingatkan Mahasiswa Unusa Agar AI Tak Gantikan Daya Pikir Manusia
Salah satunya Meylani Fernanda Bessie, wisudawan asal Kupang sekaligus lulusan pertama di keluarganya. Ia memilih Unusa karena tersedia program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang memungkinkannya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja.
Bagi Meylani, dukungan kampus terhadap keberagaman menjadi pengalaman tersendiri selama menjalani perkuliahan. Ia pernah dipercaya memimpin doa dengan tata cara agama Kristen Protestan sebelum kegiatan perkuliahan dimulai.
"Pengalaman saya yang paling mengesankan adalah ketika diminta memimpin doa dengan ajaran agama Kristen Protestan sebelum memulai perkuliahan," tegasnya. (ain)