Bagaimana tidak, beberapa kelebihannya, layak dan patut untuk dipilih, antara lain: rekam jejak organisasi dan akademik: memiliki pengalaman struktural di Nahdlatul Ulama sebagai mantan Katib Aam PBNU, aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), serta didukung latar belakang pendidikan tinggi di dalam dan luar negeri (termasuk Universitas McGill dan Leiden); kombinasi tiga peran utama: memadukan profil sebagai seorang kiai, akademisi atau intelektual, dan birokrat profesional yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal; jaringan dan visi global: memiliki reputasi dan jejaring internasional yang luas, serta gagasan strategis mengenai posisi Indonesia dan NU sebagai pusat baru peradaban Islam dunia; dan dikenal memiliki pendekatan moderat dan kemampuan komunikasi yang baik dalam merangkul berbagai elemen masyarakat, baik di tingkat akar rumput maupun elite nasional.
Alhasil, kehadiran Prof. Nasaruddin Umar dalam bursa pencalonan Ketua Umum PBNU, dipercaya dan diyakini akan menahkodai organisasi sebagai Era Kebangkitan yang akan menyangga dan membersamai Nahdliyin di seluruh pelosok nusantara. Selain itu, menjadikan NU sebagai Episentrum Peradaban Islam. Mendorong Indonesia dan kawasan Asia Tenggara agar siap menjadi pusat baru peradaban Islam dunia karena kondisi yang stabil dan tidak mengalami degradasi.
Terakhir, mengokohkan Deterritorialisasi Umat Islam. Menyoroti tantangan bahwa komunitas Muslim kini tersebar secara global, sehingga NU harus mengambil peran strategis sebagai rujukan Islam rahmatan lil 'alamin di kancah internasional, dan mendorong Kepemimpinan Berbasis Keilmuan. Menekankan pentingnya memimpin jam'iyah dengan basis keilmuan, pengalaman, serta merangkul tradisi para kiai dan muassis NU.