BACA JUGA:Fraksi PDIP DPRD Jatim Inggatkan Peredaran Narkoba di Jatim Masih Mengkhawatirkan
Karena itu, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim mendorong lima langkah konkret. Pertama, kata Renny, membangun sistem peringatan dini PHK. Kedua, memetakan 4.400 pekerja yang berpotensi terdampak. Ketiga, mengubah 16 BLK menjadi pusat transisi pekerjaan.
Keempat, menghubungkan pelatihan dengan kebutuhan riil industri. Kelima, menjadikan penempatan kerja sebagai indikator utama keberhasilan BLK.
“Persoalan PHK tidak selesai hanya dengan pesangon. Tidak selesai pula hanya dengan pelatihan atau sertifikat. PHK baru benar-benar selesai ketika pekerja kembali mendapatkan pekerjaan dan penghasilan,” tegasnya.
BACA JUGA: Anggota DPRD Jatim Puguh Dorong Mitigasi Ancaman LGBT dan Peningkatan Kesejahteraan Guru
Menurutnya, ada dua angka yang harus menjadi alarm Pemprov Jatim. 2.332 pekerja sudah kehilangan pekerjaan. Sementara 4.400 pekerja lainnya masih bisa diselamatkan.
“Angka pertama harus ditangani. Angka kedua harus dicegah. Jangan sampai kita baru sibuk menangani korban ketika gelombang PHK sudah membesar,” ujarnya.
Bunda Renny menambahkan, Jawa Timur tidak membutuhkan BLK yang sekadar mencetak sertifikat.
“Jawa Timur membutuhkan BLK yang mencetak kesempatan kerja. Dan pemerintah harus memastikan setiap pelatihan punya jalan menuju pekerjaan,” pungkas Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kediri ini. (day)