Sebab, merawat sebuah republik tidak semudah membalikkan telapak tangan; ia serupa mengalirkan sungai peradaban yang arusnya sangat deras. Hukum adalah alurnya, dan ia tidak boleh dilompati sembarangan hanya karena angin kecurigaan bertiup kencang dari segala penjuru.
Memindahkan jalur secara terburu-buru memang bisa menenangkan sore hari yang gaduh, tapi ia menyimpan jurang misterius yang siap menelan kita di masa depan. Jalan pintas hanya meredam keributan di permukaan, sementara fondasi di dalam tetap keropos.
Sebaliknya, memaksa sistem internal berjalan di atas rel yang benar dengan pengawasan publik yang ketat dan transparansi penuh memang melelahkan serta menguji urat sabar. Kendati demikian, di atas jalan terjal dan berliku itulah karakter serta integritas bangsa ini ditempa dengan sesungguhnya.
BACA JUGA:Nasi Bungkus dan Panggung Sandiwara
BACA JUGA:Kenyang dalam Dusta
BACA JUGA:Di Balik Sunyi Ruang Kelas
Menyelamatkan Indonesia bukanlah pekerjaan meraba-raba dalam gelap gulita tanpa arah. Di bawah kemudi hari ini, sauh besar tengah dilabuhkan di tengah gelombang harapan yang tinggi. Bangsa yang besar tidak pernah lahir dari kepanikan sesaat, melainkan dari ketabahan yang panjang dan konsisten.
Kelak, keadilan bukanlah soal siapa yang paling cepat berteriak atau siapa yang paling keras menghukum di panggung opini publik. Laksana air jernih yang sabar mengikis bebatuan keras tenang, tanpa riuh yang memekakkan telinga, namun tahu persis ke mana ia harus bermuara keadilan sejati pada akhirnya akan menemukan jalannya pulang untuk merangkul dan menyelamatkan seluruh negeri kita tercinta.
~ A. Nawawi Maksum ~
(Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso)