Fenomena Bediding di Jawa Timur Capai Puncaknya, Dokter Ingatkan Risiko Udara Dingin

Jumat 17-07-2026,16:59 WIB
Reporter : Lailatul Nur Aini
Editor : Udin

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Fenomena bediding di Jawa Timur mencapai puncaknya dan membawa sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai, meski udara dingin bukan penyebab langsung flu, Jumat 17 Juli 2026.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Petra, dr Octavianus Eka Saputra SpA menjelaskan suhu dingin bukan penyebab langsung seseorang terserang flu.

Menurutnya, penyakit flu terjadi akibat infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan.

"Udara dingin dan kering memang tidak menyebabkan flu secara langsung. Namun kondisi tersebut dapat membuat lapisan pelindung pada saluran napas menjadi lebih kering sehingga virus lebih mudah masuk dan berkembang," jelas dr. Octavianus Eka Saputra.

Selain itu, kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit kronis perlu mendapat perhatian khusus selama fenomena bediding berlangsung.

BACA JUGA:Suhu Surabaya Menyengat! BMKG Sebut Kemarau Dini dan Potensi El Niño Jadi Pemicu Cuaca Ekstrem


Gempur Rokok Illegal--

Menurutnya, suhu dingin tidak hanya meningkatkan risiko gangguan pernapasan seperti batuk, pilek, dan asma, tetapi juga dapat memengaruhi sistem peredaran darah.

Saat suhu lingkungan menurun, tubuh secara alami mempersempit pembuluh darah di permukaan kulit untuk mempertahankan panas.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah dalam waktu singkat.

"Karena itu, penderita hipertensi dan penyakit jantung perlu lebih waspada. Perubahan suhu yang cukup ekstrem bisa memicu keluhan kesehatan yang lebih serius," ujarnya.

BACA JUGA:Juni Harusnya Kemarau, Anomali Cuaca Bikin Surabaya Tergenang Banjir dan Rob

Sementara itu, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, bediding merupakan fenomena tahunan yang terjadi saat musim kemarau akibat pengaruh Angin Monsun Australia dan minimnya tutupan awan pada malam hari.

Kondisi tersebut membuat suhu udara, terutama menjelang pagi, terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya.

Untuk mengurangi dampak kesehatan akibat bediding, masyarakat dianjurkan mengenakan pakaian hangat berlapis, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, menjaga kebersihan tangan, tetap aktif bergerak, dan beristirahat cukup.

Orang tua juga diminta lebih peka terhadap kondisi anak apabila muncul gejala seperti demam tinggi, sesak napas, tubuh lemas, atau menolak makan dan minum agar segera dilakukan pemeriksaan medis.

BACA JUGA:Suhu Surabaya Menyengat! BMKG Sebut Kemarau Dini dan Potensi El Niño Jadi Pemicu Cuaca Ekstrem

Menurutnya, bediding merupakan bagian dari siklus alam yang normal dan tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan.

"Fokus utama bukan pada rasa dinginnya, tetapi bagaimana kita menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Dengan pola hidup sehat, risiko gangguan kesehatan selama musim bediding dapat diminimalkan," pungkasnya. (ain)

 

 
 
 
Kategori :