Dari usaha sekecil itu, Pak Iwan mencoba mengganjal perut lima anggota keluarganya. Sebuah upaya yang tentu saja jauh dari kata cukup.
"Kadang makan, kadang nunggu ada rezeki dulu. Sekarang saja kami belum bisa masak karena gas habis dan belum ada uang buat beli," ucapnya, mengungkap fakta menyedihkan bahwa dapur mereka hari itu berhenti mengepul.
Di tengah kondisi yang babak belur ini, mencuat sebuah ironi yang menyayat hati. Pak Iwan mengaku keluarganya sama sekali belum pernah merasakan manisnya bantuan sosial pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
BACA JUGA:IPM Jember Tembus 71,57, Bupati Gus Fawait Genjot Akselerasi Lewat Program MBG dan Satgas Kemiskinan
Alasannya sangat birokratis: data kesejahteraan keluarganya masih tercatat masuk dalam kategori desil 5. Sebuah angka di atas kertas yang menganggapnya "cukup mampu", sementara realitanya mereka berada di ambang kelaparan.
"Belum pernah dapat PKH atau BPNT. Katanya saya masih masuk desil lima," ulasnya pasrah.
Padahal, utang dan beban hidupnya terus menumpuk bak gunung. Selain memikirkan biaya sekolah kedua anaknya, tagihan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) miliknya telah menunggak selama satu tahun dengan total mencapai Rp2,4 juta beserta denda. Beruntung, pihak PDAM masih mengetuk pintu kemanusiaan dengan memberikan skema cicilan agar aliran air bersih tidak diputus. Namun tetap saja, cicilan itu menjadi monster baru bagi dompetnya yang kosong.
BACA JUGA:Warisan Kemiskinan Ekstrem dan Stunting: Ujian Nyata Tahun Pertama Gus Fawait Pimpin Jember
Tragedi ekonomi keluarga ini sebenarnya berakar sejak ayah mertuanya jatuh sakit akibat jantung koroner beberapa tahun lalu. Demi menebus biaya pengobatan, rumah satu-satunya aset keluarga terpaksa dilego. Sang ayah kemudian berpulang pada tahun 2022, meninggalkan keluarga ini luntang-lantung berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
Cobaan beruntun kembali datang saat sang istri didiagnosis kanker payudara setahun lalu dan harus melewati tindakan biopsi serta operasi. Pak Iwan bersyukur, seluruh biaya medis yang mencapai jutaan rupiah dicover oleh program Universal Health Coverage (UHC). Namun, biaya operasional, transportasi rumah sakit, hingga pemulihan sehari-hari tetap menguras energi dan finansialnya yang sudah minus.
Kendati dihantam cobaan bertubi-tubi, Pak Iwan menegaskan dirinya tidak ingin terus-menerus menengadahkan tangan meminta santunan. Jiwa kemandiriannya belum mati. Ia hanya butuh stimulus untuk kembali tegak berdiri.
Gempur Rokok Illegal--
"Kalau kontrakan rumah bisa dibantu, saya bisa fokus usaha. Saya ingin punya rombong (gerobak) lagi supaya bisa jualan seperti dulu," ungkapnya dengan binar mata yang tersisa.
Kisah pilu Pak Iwan di Lingkungan Sawahan ini menjadi tamparan keras bagi wajah modernisasi Kota Jember yang terus bersolek. Di balik pertumbuhan ekonomi dan megahnya gedung perkotaan, potret kemiskinan ekstrem nyatanya masih nyata dan berdarah-darah, bertahan hidup hanya dengan selembar uang belasan ribu rupiah per hari, merayap di sela-sela ketidakpedulian sistem.(Fbr)