JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Musim kemarau yang mulai mengganas di Kabupaten Jember memicu lonjakan kasus kebakaran yang mengerikan di berbagai wilayah. Hanya dalam kurun waktu Juni hingga awal Juli 2026, Unit Pelaksana Teknis Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (UPT Damkarmat) Jember mencatat sedikitnya 23 peristiwa kebakaran telah menghanguskan wilayah tersebut. Amukan si jago merah ini didominasi oleh kebakaran lahan kering, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari, rumpun bambu, lahan tebu, hingga bangunan milik warga.
Mini Kidi Wipes.--
Kondisi cuaca ekstrem yang gersang, disertai terik matahari menyengat dan minimnya curah hujan, membuat api begitu mudah tersulut. Ditambah lagi, embusan angin kencang membuat kobaran api dengan cepat menjalar dan meluas, mengancam permukiman warga.
BACA JUGA:Lapas Jember Gandeng Satpol PP Demi Lindungi Jiwa Warga Binaan dari Risiko Kebakaran
Kepala UPT Damkarmat Jember, Ahmad Sidiq, mengungkapkan fakta miris bahwa sebagian besar petaka ini justru dipicu oleh kelalaian manusia. Mulai dari pembakaran sampah yang ditinggalkan begitu saja, hingga kecerobohan membuang puntung rokok yang masih menyala. Vegetasi yang mengering akibat kemarau pun menjadi bahan bakar sempurna yang membuat api sulit dikendalikan.
"Harapan kami kepada masyarakat, mari sambut musim kemarau ini dengan kewaspadaan tinggi. Jangan sembarangan membakar sampah! Api yang tidak terkendali bisa menjelma menjadi bencana besar yang sulit dipadamkan. Ingat, mencegah jauh lebih baik daripada harus berjibaku memadamkan api," tegas Ahmad Sidiq saat diwawancarai, Rabu (8/7/2026).
Gempur Rokok Illegal--
Salah satu insiden paling krusial yang sempat memicu kepanikan adalah terbakarnya TPA Pakusari. Mengingat kandungan gas metana di lokasi, kebakaran tersebut berpotensi menjadi ledakan api yang meluas jika terlambat ditangani. Begitu menerima laporan darurat, Damkarmat langsung mengerahkan kekuatan penuh, termasuk menerjunkan empat unit armada tempur dari Pos Rambipuji dan Pos Kalisat untuk mengisolasi titik api dan melakukan pembasahan intensif.
"Alhamdulillah, personel kami tetap siaga dengan kekuatan penuh. Saat kebakaran di TPA Pakusari kemarin, kami langsung kepung dengan empat unit armada dari dua pos, sehingga api berhasil dijinakkan sebelum meluas lebih jauh," lanjutnya.
BACA JUGA:Obat Nyamuk Listrik Diduga Penyebab Kebakaran Rumah Petemon Surabaya Tewaskan Balita
Sidiq menduga kuat bahwa petaka di TPA Pakusari tersebut dipicu oleh sebatang puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh oknum tidak bertanggung jawab. "Tolong, masyarakat harus lebih waspada dan hati-hati. Nyawa dan materi menjadi taruhannya," pintanya dengan nada serius.
Menyikapi ancaman kemarau yang masih panjang, Damkarmat Jember kini memperketat barisan. Mereka memperkuat koordinasi lintas sektoral dengan Perhutani, pemerintah desa, aparat keamanan, hingga instansi terkait agar respons penanganan bisa dilakukan secepat kilat demi meminimalkan dampak buruk.
"Kami berkoordinasi di semua lini. Jika melihat ada titik api, sekecil apa pun, segera laporkan ke call center kami. Penanganan yang cepat adalah kunci agar api tidak menjalar dan menjadi bencana," jelas Sidiq.
BACA JUGA:Kebakaran Rumah Petemon Surabaya Memakan Korban, 1 Balita Meregang Nyawa
Di sisi lain, kecemasan mendalam dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitar lahan rawan. Suhariyanto, seorang warga Perumahan Istana Tegal Besar, mengeluhkan teror kebakaran lahan tebu yang seolah menjadi "agenda rutin" menakutkan setiap tahun di dekat permukimannya.