Jejak Sunyi di Sungai Katingan

Selasa 07-07-2026,15:37 WIB
Reporter : A. Nawawi Maksum
Editor : Fatkhul Aziz

​Sungai Katingan membisu. Waktu seolah mati di tepiannya. Kabar itu datang membawa sunyi yang menyayat: Aipda Yudhie Perdana Putra, Aiptu Sumariyanto, dan Bripda Nopandri Ramadhana tidak akan lagi pulang ke pelukan keluarga.

​Mereka tidak kembali dengan derap langkah gagah dalam upacara. Mereka pulang dalam hening, dituntun arus sungai yang setia menjadi saksi bisu pengabdian terakhir mereka yang sunyi.

BACA JUGA:Nasi Bungkus dan Panggung Sandiwara


Mini Kidi Wipes.--

​Kita menyebutnya gugur. Kata itu terasa ringan diucapkan, namun menyisakan retak yang takkan pernah sembuh. Bayangkan seorang anak kecil di rumah yang jauh, terus menatap daun pintu. Ia menanti ketukan sandal sang Ayah yang tadi pagi berjanji akan pulang membawa cerita. Kini, pintu itu tetap bisu. Tak ada lagi tawa yang menyambut. Tak ada lagi pelukan hangat. Hanya ada sisa janji yang terkubur di dasar sungai, tertukar dengan harga yang begitu mahal: sebuah kebenaran.

​Pengabdian ini mengingatkan kita pada petuah Kitab Al-Hikam: "Al-a’malu suwarun qa’imatun, wa arwahuha wujudus sirril ikhlasi fiha"—amal hanyalah raga, dan ruhnya adalah rahasia keikhlasan. Mereka bukan sekadar menjalankan tugas di atas kertas. Mereka membasuh keikhlasan itu dengan nyawa, menjaga generasi kita agar tidak hancur oleh racun yang merusak akal. Pengabdian mereka adalah ibadah, ketaatan pada nilai kemanusiaan yang paling luhur.

BACA JUGA:Tancap Gas Pra TMMD 129 Lamongan, TNI-Warga Normalisasi Sungai Desa Tlemang

​Di balik seragam itu, mereka manusia biasa. Mereka punya kerinduan sederhana: makan malam bersama istri, memeluk anak-anak, dan menua dengan damai. Mereka adalah petani keadilan yang mencangkul di tanah gersang, di medan yang membuat nyali orang biasa menciut. Mereka berkorban agar kita bisa tidur tenang di rumah yang aman, sementara di luar sana, mereka bergulat dengan kegelapan demi keselamatan kita.

​Kita perlu menundukkan kepala bagi Polri. Di balik berita yang sekilas kita baca, ada ribuan personel yang menahan rindu, menyimpan air mata, dan mempertaruhkan nyawa agar kejahatan tidak meraja. Mereka adalah benteng kedamaian negeri ini. Mereka bekerja dalam sunyi yang sering tak terjamah oleh apresiasi kita.

BACA JUGA:Tanggul Sungai Avoer Purisemanding Ambrol 10 Meter, PUPR Jombang Kebut Perbaikan

​Di tengah duka, Polri menegaskan satu hal: pemberantasan narkoba tidak akan berhenti. Narkoba adalah musuh bersama, racun yang merayap di akar kehidupan. Gugurnya ketiga ksatria ini bukan titik henti, melainkan cambuk bagi kita semua untuk bangkit. Setiap gram narkoba yang beredar adalah ancaman nyata bagi masa depan bangsa kita.

​Menghormati mereka adalah tanggung jawab moral yang sangat besar. Kita harus memastikan perjuangan mereka melawan kehancuran terus bergema dalam setiap napas kita. Air mata hari ini harus menjadi api yang membakar keberanian untuk berani berkata tidak pada kejahatan, demi menjaga martabat bangsa yang mereka cintai dengan sisa nyawanya.


Gempur Rokok Illegal--

​Selamat jalan, para ksatria. Tugas telah usai. Biarkan rumah yang kalian cintai ini terus dijaga dengan tekad baja. Bangsa yang besar tidak akan membiarkan pengabdian putra-putrinya terkubur oleh apatisme. Kemuliaan kalian adalah kompas bagi kami untuk mencintai tanah air dengan aksi nyata. Kebersamaan dalam memerangi kehancuran adalah wujud penghormatan paling agung, sebagaimana setiap amal yang didasari keikhlasan akan tetap abadi meski raga telah kembali ke bumi.

Kategori :