MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Stand Galery Bangho menjadi spot foto favorit di Festival Malang Tempo Doeloe di Taman Krida Budaya Jawa Timur, kawasan Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang, sejak dibuka pada Selasa 30 Juni 2026. Sejak dibuka, stan tersebut diserbu ribuan pengunjung.
Tidak hanya warga Malang Raya, rombongan dari Solo, Yogyakarta, Bandung, hingga Jakarta juga datang untuk bernostalgia.
Galery Bangho menjadi daya tarik utama karena dekorasi bergaya kolonial dan koleksi barang antik langka yang membuat pengunjung rela mengantre untuk berfoto dengan nuansa tempo dulu.
BACA JUGA:Peran Besar Soendari Batik dalam Melestarikan Warisan Budaya Kota Malang
Mini Kidi Wipes.--
Pengunjung bergantian berpose menggunakan properti lawas, seperti topi fedora, gaun panjang, hingga jas bergaya bangsawan Belanda.
"Rasanya seperti kembali ke tahun 1950-an. Keren sekali dekorasinya, sangat detail," terang Rani, pengunjung asal Bandung yang rela mengantre selama 30 menit.
Selain itu, Festival Malang Tempo Doeloe yang berlangsung pada 30 Juni hingga 5 Juli 2026 menjadi ruang publik lintas generasi.
Kakek dan nenek datang untuk bernostalgia, sedangkan anak muda memanfaatkan festival tersebut sebagai lokasi pembuatan konten.
Galery Bangho berbeda karena seluruh koleksi yang dipamerkan merupakan barang antik asli dengan usia lebih dari satu abad.
Beberapa koleksi yang menjadi favorit pengunjung untuk berfoto di antaranya Gramaphon Thorens produksi Swiss tahun 1922, Gramaphon Tropical era 1919, Radio Telefunken buatan Jerman tahun 1951, Radio Philips Guitar produksi Belanda tahun 1952, serta sederet radio tabung langka lainnya.
BACA JUGA:Indonesia City Expo APEKSI XVIII Medan, Tugu Tirta Kota Malang Usung Smart Water City
Gempur Rokok Illegal--
Sementara itu, desain stan bergaya gedung kolonial dengan pencahayaan lampu kuning temaram semakin memperkuat suasana tempo dulu.
Keramaian tersebut juga disambut Miss Cultural Junior Indonesia 2025 sekaligus Putri Kebudayaan Jawa Timur, Shinta Prameswari, yang hadir di Stand Galery Bangho.
"Sangat luar biasa. Festival ini bisa memperkenalkan budaya zaman dahulu kepada anak remaja zaman sekarang yang sudah mulai melupakan budayanya sendiri," terang Shinta.
Menurutnya, generasi muda dapat mengambil pelajaran dari benda-benda bersejarah yang dipamerkan dalam festival tersebut.
"Melalui event tersebut, kita bisa belajar bahwa dari barang-barang zaman dahulu pun dapat diambil pelajaran," ujarnya.
Ia menutup dengan seruan. "Salam budaya! Lestari budayaku di Nusantara," tegas dia. (edr).