SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Pemkot Surabaya menegaskan komitmennya mendukung seniman dan budayawan lokal dengan membuka ruang publik yang inklusif dan ramah bagi pelaku seni saat penyerahan Surat Keputusan Pengurus Dewan Kebudayaan Surabaya Periode 2026-2029 di Rumah Dinas Wali Kota, Jumat 15 Mei 2026.
Mini Kidi Wipes.--
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta pengurus Dewan Kebudayaan Surabaya memanfaatkan aset milik kota untuk menghidupkan aktivitas seni di berbagai ruang publik.
"Karena itu saya berpesan kepada pengurus dari Dewan Kebudayaan Surabaya, ayo manfaatkan. Kita punya Balai Pemuda, kita punya Balai Budaya, kita punya taman, kita juga punya namanya Hi-Tech Mall, jadi sering-sering tampil," ujarnya.
BACA JUGA:Perkuat Ekosistem Budaya, Pemkot Surabaya Transformasi Dewan Kesenian Jadi Dewan Kebudayaan
Menurutnya, Pemkot Surabaya memiliki kewenangan penuh dalam pengelolaan fasilitas publik termasuk pengaturan biaya penggunaan ruang agar tidak membebani komunitas budaya.
Ia menambahkan, aktivitas seni di ruang publik diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi angka pengangguran terbuka dan kemiskinan di Kota Pahlawan.
Gempur Rokok Ilegal. Ini Ciri-ciri rokok Ilegal.--
"Sehingga ini akan bisa mengurangi pengangguran terbuka, mengurangi kemiskinan. Tapi dengan catatan, yang tampil adalah Dewan Kebudayaan Surabaya, yang tampil adalah teman-teman kesenian Surabaya, yang tampil adalah teman-teman budaya Surabaya," tegasnya.
Sementara itu, mantan Wakil Ketua Tim Transformasi Lembaga Kebudayaan Surabaya Isa Ansori mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya yang dinilai memberikan afirmasi nyata bagi seniman dan budayawan.
"Pernyataan Mas Wali Kota tentang hubungan seniman dengan ruang publik seperti Balai Pemuda merupakan bentuk afirmasi dan keberpihakan Pemerintah Kota Surabaya kepada seniman dan budayawan. Ini penting karena ruang publik sejatinya adalah ruang tumbuhnya karya, kreativitas, dan ekspresi kebudayaan," katanya.
BACA JUGA:Lima Tahun Mati Suri, Dewan Kesenian Surabaya Perlu Perbaikan Paradigma
Menurut Isa, kebijakan tersebut mematahkan asumsi bahwa ruang publik di Surabaya semakin sulit diakses komunitas seni.
"Ini menjadi pesan penting bahwa Balai Pemuda dan ruang-ruang publik lainnya tetap menjadi rumah bersama bagi para seniman, komunitas budaya, anak muda kreatif, dan warga kota untuk berkarya serta bertemu dengan publik," pungkas Isa. (alf)