Dalam operasionalnya, sistem Terangin mampu menghasilkan energi hingga 2,1 kWh per hari. Energi tersebut tidak hanya digunakan untuk lampu jebakan hama, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk irigasi hingga sprinkler.
"Penggunaan sistem ini memungkinkan petani mengurangi pestisida secara signifikan sekaligus meningkatkan produktivitas panen," ungkap Hanif.
Secara ekonomi, inovasi ini juga memberikan keuntungan besar bagi petani. Penggunaan Terangin diklaim mampu menghemat biaya hingga puluhan juta rupiah per hektar setiap musim tanam, sekaligus menekan risiko gagal panen akibat hama yang sebelumnya bisa mencapai 50 persen.
Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--
"Selain hemat biaya, tanah juga menjadi lebih subur karena penggunaan pestisida berkurang," ujarnya.
Keberhasilan Terangin tak lepas dari kolaborasi lintas disiplin tim. Berkat inovasi tersebut, Terangin berhasil menembus Top 6 dalam Fowler Global Innovation Challenge 2026 dan meraih penghargaan senilai 3.000 dolar AS.
Kini, Terangin telah berkembang menjadi startup dengan omzet ratusan juta rupiah, baik dari penjualan produk maupun dukungan hibah. Ke depan, tim berencana memperluas pemanfaatan teknologi ini hingga wilayah pesisir dan pasar internasional.
"Kami berharap Terangin bisa menjangkau lebih banyak petani, bahkan hingga pasar internasional," pungkasnya.(Ain)