Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Mahasiswa ITS Sulap Angin dan Matahari Jadi Senjata Efektif Basmi Hama

Mahasiswa ITS Sulap Angin dan Matahari Jadi Senjata Efektif Basmi Hama

Mahasiswa ITS menciptakan terangin, turbin dan angin untuk menekan risiko petani gagal panen--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Keresahan petani terhadap serangan hama yang kerap berujung gagal panen kini mulai menemukan solusi baru. Sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi energi terbarukan berbasis angin dan surya bernama Terang dan Angin (Terangin), sebuah turbin ramah lingkungan yang dirancang khusus untuk mendukung sektor pertanian.

Inovasi ini digagas oleh Muhammad Hanif, mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS, yang melihat potensi besar angin di Kabupaten Nganjuk. Wilayah yang dikenal sebagai “kota angin” sekaligus sentra bawang merah tersebut menjadi inspirasi lahirnya teknologi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga aplikatif bagi petani.

BACA JUGA:ITS Kembangkan Sains Techno Park untuk Perkuat Inovasi Mahasiswa


Mini Kidi Wipes.--

"Awalnya riset ini kami kembangkan untuk kebutuhan lomba, tetapi ketika mulai ada permintaan dari masyarakat, kami sadar inovasi ini harus naik level menjadi produk yang bisa dimanfaatkan secara luas," ujar Hanif, Selasa 5 Mei 2026.

Berbeda dari turbin konvensional, Terangin mengusung sistem microgrid yang mengombinasikan energi angin dan matahari untuk mengoperasikan lampu jebakan hama secara otomatis. Sistem ini sengaja dirancang sederhana agar mudah digunakan petani tanpa memerlukan keahlian teknis tinggi.

BACA JUGA:ITS Kembangkan Sains Techno Park untuk Perkuat Inovasi Mahasiswa

"Kami ingin teknologi ini sesederhana mungkin, sehingga petani tidak kesulitan dalam pengoperasiannya di lapangan," imbuhnya.

Keunggulan lain terletak pada desain pondasi modular non-permanen yang mampu menekan biaya hingga delapan kali lebih murah dibandingkan pondasi beton. Selain fleksibel untuk lahan sewa, turbin ini juga mudah dibongkar pasang sesuai kebutuhan petani di lapangan.

Tak hanya itu, tim juga menciptakan sistem rem otomatis bernama remin (rem angin) yang bekerja tanpa listrik maupun sensor. Teknologi ini memanfaatkan tekanan angin untuk memperlambat putaran turbin secara mandiri, sehingga lebih hemat energi dan minim perawatan.

BACA JUGA:ITS dan BRIDA Kembangkan Mangrove Surabaya Jadi Laboratorium Alam Berbasis Teknologi

"Rem ini tidak membutuhkan listrik sama sekali, lebih murah, dan sepenuhnya otomatis tanpa perlu pemantauan rutin," jelas Hanif.

Untuk menjawab tantangan pemeliharaan di area pertanian yang luas, Terangin memanfaatkan teknologi drone guna melakukan monitoring jarak jauh. Cara ini memungkinkan deteksi dini kerusakan sehingga perawatan menjadi lebih cepat, efisien, dan aman.

"Dengan bantuan drone, kami bisa memantau kondisi turbin tanpa harus membongkar atau mendatangi satu per satu titik," tambahnya

Sumber: