Joki dan Berhala Gelar

Jumat 24-04-2026,08:00 WIB
Reporter : Fatkhul Aziz
Editor : Fatkhul Aziz

Di sebuah sudut kampus di Surabaya, barangkali di bawah bayang-bayang pohon angsana yang rontok, sebuah rahasia terbongkar. Di Unesa dan UPN Veteran, kabar itu berembus seperti bau apek dari gudang tua: perjokian dalam UTBK-SNBT. Kita terhenyak, tapi benarkah kita terkejut?

Ada sesuatu yang ganjil dalam ambisi kita. Di satu sisi, kita mendengar keluh kesah tentang ijazah yang menumpuk di laci, tak laku di pasar kerja yang kian ciut. Di sisi lain, biaya kuliah melonjak seperti harga tanah di pusat kota. Namun, di gerbang masuk universitas, orang-orang masih bersedia membayar puluhan juta, bahkan menempuh jalan gelap, demi sebuah kursi di ruang kuliah. Mengapa?

BACA JUGA:Bangku yang Menjauh


Mini Kidi Wipes.--

Mungkin karena kita telah lama mengubah pendidikan menjadi sebuah ritus, bukan lagi proses logos.

Perjokian bukan sekadar soal malas belajar. Ia adalah anak kandung dari kecemasan sosial yang akut. Dalam masyarakat yang masih memuja label, gelar sarjana dari kampus negeri dianggap sebagai jimat. Ia adalah paspor kelas sosial.

BACA JUGA:Jawa 2050

Maka, ketika sistem seleksi menjadi sedemikian mekanis dan kompetitif, kejujuran seringkali dikorbankan di atas altar efisiensi. Kita melihat komodifikasi pendidikan: Universitas bukan lagi tempat mencari kebenaran, tapi pabrik pencetak sertifikat. Jika ijazah adalah barang dagangan, maka wajar jika ada jalan pintas untuk membelinya.Kita juga melihat obsesi pada hasil: Kita lebih menghargai skor di layar komputer ketimbang ketekunan di meja belajar. Joki hadir untuk memenuhi dahaga akan angka-angka itu.

Ada ironi yang pedih di sini. Para orang tua dan calon mahasiswa bertaruh nyawa (dan harta) untuk masuk ke institusi yang sebenarnya sedang limbung. Data menunjukkan ribuan sarjana menganggur, dan underemployment—kondisi di mana lulusan bekerja di bawah level kompetensinya—menjadi pemandangan lazim. Lalu, mengapa mereka tetap berebut masuk dengan cara curang?

BACA JUGA:Di Simpang Jalan Gubernur Suryo

Mungkin karena kita tidak punya pilihan lain. Di Indonesia, tanpa gelar, seseorang dianggap tidak lengkap. Kita terjebak dalam apa yang disebut sebagai credentialism. Kita mengejar ijazah bukan karena isinya, tapi karena ia adalah syarat administratif untuk bertahan hidup di tengah rimba birokrasi dan industri yang kaku.

Perjokian di Unesa dan UPN Veteran hanyalah retakan kecil di permukaan cermin besar pendidikan kita. Jika kita terus membiarkan pendidikan hanya menjadi ajang adu gengsi dan akumulasi gelar tanpa substansi, maka kejujuran akan selalu menjadi barang mewah yang tak terbeli.


Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--

Joki tidak bekerja sendiri. Ia bekerja dalam sebuah sistem yang diam-diam memaklumi bahwa tujuan menghalalkan cara. Di sana, integritas mati pelan-pelan, tertimbun oleh tumpukan kertas borang dan ambisi kosong.

Wabakdu, barangkali kita tidak sedang membangun peradaban. Kita hanya sedang merawat sebuah berhala yang kita sebut Gelar Sarjana, sementara di luar sana, dunia yang nyata sedang menuntut sesuatu yang jauh lebih jujur dari sekadar angka-angka di atas kertas.

Kategori :