Saya tinggal di kamar yang ukurannya tidak terlalu besar. Setiap hari bergerak dari sudut kos ke kasur, dari kasur ke cermin, lalu kembali lagi ke kasur.
Beberapa kali keluar bertemu orang. Tapi sebagian besar waktu, ya begini saja. Sendiri.
BACA JUGA:Inspirasi Kandang Kucing Outdoor dari Baja Ringan, Kokoh dan Estetik di Lahan Sempit
Kadang saya berdiri lama di depan toples itu. Cupang itu berenang mendekat ke kaca, seperti ingin memastikan apakah saya ini makhluk sama yang selalu datang setiap hari.
Ia menatap saya dengan mata kecil yang tidak terlalu ekspresif, tapi entah kenapa terasa seperti sedang melakukan percakapan diam.
Cupang saya tidak pernah terlihat sedih.
Ia berenang pelan. Kadang berhenti di dekat permukaan air, seperti sedang memikirkan sesuatu yang hanya dimengerti oleh makhluk air. Kadang ia tiba-tiba mengembangkan siripnya lebar-lebar ketika melihat bayangannya sendiri di kaca.
BACA JUGA:Daftar Tanaman Pagar Hidup yang Cantik, Rindang, dan Mudah Dirawat
Setiap kali itu terjadi, saya kagum. Bayangkan saja, ikan yang hidup sendirian masih sempat-sempatnya berlagak gagah kepada bayangannya sendiri. Dan di situlah saya merasa sedikit tersindir.
Manusia sering merasa paling menderita karena kesepian. Padahal puisi ditulis sendirian. Ide datang saat sendirian. Bahkan keputusan-keputusan besar dalam hidup sering diambil ketika seseorang duduk sendiri di sebuah kamar, menatap sesuatu yang tidak bergerak entah itu jendela, langit-langit, atau seekor ikan di dalam toples.
Cupang tidak punya semua itu.
Ia hanya punya air. Namun ia tetap berenang seperti biasa. Barangkali itulah pelajaran paling sederhana yang saya dapat dari memelihara cupang.