Sebagai orang tua, ia mengaku akan sangat marah jika anak perempuannya menjadi korban catcalling. Karena itu, ia selalu menanamkan nilai sopan santun, cara berperilaku, serta pentingnya memilih lingkungan pertemanan yang sehat.
Tak hanya kepada anak perempuan, Deasy juga menanamkan nilai yang sama kepada anak laki-lakinya agar mampu menghargai perempuan dan bertanggung jawab atas setiap tindakan.
"Anak laki-laki juga saya ajarkan, bayangkan kalau saudara perempuannya diperlakukan seperti itu. Jadi harus bisa menghargai perempuan," tambahnya.
BACA JUGA:Kasus Catcalling Sukomanunggal Surabaya Berakhir Damai
Terkait penyelesaian kasus, Deasy menilai jalur damai tidak cukup memberikan keadilan bagi korban. Ia mendorong agar kasus catcalling dilaporkan jika memiliki bukti yang kuat.
"Kalau ada bukti, lebih baik dilaporkan saja. Supaya pelaku jera dan tidak mengulangi lagi," tegas Deasy.
Ia juga berharap aparat penegak hukum benar-benar serius dalam menangani kasus catcalling, mengingat saat ini sudah ada payung hukum yang mengatur.
BACA JUGA:Jadi Korban Catcalling, Perempuan di Sukomanunggal Surabaya Labrak Tongkrongan Bapak-Bapak
Di sisi lain, Deasy menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun komunikasi yang sehat dengan anak. Ia percaya, melalui obrolan santai di rumah, orang tua dapat memberikan pemahaman dan nilai kehidupan secara efektif.
"Ngobrol sama anak itu penting. Dari situ kita bisa saling cerita dan memberi nasihat tanpa terasa menggurui,” ungkapnya.
BACA JUGA:Hukum Lumpuh di Jalanan, Normalisasi Catcalling di Surabaya Bukti Lemahnya Implementasi UU TPKS
Menurutnya, faktor lingkungan, pergaulan, dan pendidikan juga sangat memengaruhi perilaku seseorang, termasuk dalam kasus catcalling. Oleh karena itu, ia berharap sekolah turut aktif memberikan edukasi kepada siswa agar tidak menjadi pelaku maupun korban.
"Sekolah juga harus ikut memberi pemahaman tentang ini, supaya anak-anak tahu batasan dan bisa saling menghargai," pungkasnya. (Ain)