Di beranda hari yang fitri, ketika gema takbir perlahan surut menjadi hening, kita kerap merayakan sebuah ilusi yang indah: bahwa maaf adalah sepucuk surat yang sampai ke alamatnya, dan dendam adalah debu yang bisa disapu dari lantai sejarah.
Namun, barangkali kita terlalu lekas berpuas diri dengan ketupat dan jabat tangan.
Di tempat lain—di tanah yang jauh namun terasa di ulu hati—Idulfitri datang dengan wajah yang berbeda. Di Gaza, di Palestina, doa-doa meluncur di antara reruntuhan beton yang masih hangat oleh mesiu. Di sana, maaf bukan sekadar etika sosial; ia adalah kemewahan yang dirampas.
BACA JUGA:Lailatul Qadar dan Krisis Global
Mini Kidi Wipes.--
Kita melihat sebuah ironi yang getir. Sementara agama mengajak kita menanggalkan ego, kekuatan-kekuatan besar—sebut saja Amerika dan Israel—tampaknya sedang menulis kitab suci yang berbeda. Sebuah liturgi agresi. Di Venezuela yang didera sanksi, di Iran yang dikepung ancaman, dan di tanah Palestina yang dikerat-kerat setiap harinya, dunia dipaksa untuk terus memendam dendam. Seolah-olah sejarah hanya bisa tegak jika ada musuh yang harus dihancurkan, dan perdamaian hanyalah jeda singkat untuk mengisi ulang amunisi.
Ada semacam keangkuhan yang aneh di sana: keinginan untuk memaksakan kehendak dengan laras senjata, sambil tetap merasa sebagai pembawa obor peradaban.
BACA JUGA:Wahyu dan Mesiu
Namun, lihatlah Timur Tengah hari ini. Di tengah provokasi yang konstan, di bawah bayang-bayang jet tempur, negara-negara di sana menunjukkan sesuatu yang hampir mustahil: kesabaran yang luar biasa. Bukan kesabaran seorang pesilat yang kalah, melainkan kesabaran seorang pertapa yang tahu bahwa amarah yang meledak tanpa perhitungan hanyalah bahan bakar bagi mesin perang lawan.
Bagaimana sejarah akan menuliskannya kelak?
Gempur Rokok Ilegal -----
Mungkin sejarah tidak akan menulis tentang siapa yang menang atau siapa yang paling banyak menjatuhkan bom. Mungkin sejarah akan menulis tentang mereka yang bertahan di tengah gempuran tanpa kehilangan kemanusiaannya. Sejarah mungkin akan mencatat bahwa pada suatu masa, ada sebuah bangsa yang ditindas begitu rupa, namun tetap memilih untuk tidak menjadi monster yang sama dengan penindasnya.
Sebab pada akhirnya, politik adalah tentang kekuasaan, tapi sejarah adalah tentang ingatan. Dan ingatan tentang ketidakadilan—seperti juga gema takbir di pagi yang sunyi—takkan pernah bisa benar-benar dibungkam.