SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Aksi nekat mahasiswa asal Jakarta berinisial CLS (20) mengakhiri hidup dengan cara loncat dari lantai 11 Apartemen Soekarno Hatta, Malang disorot banyak pihak.
Kasus ini menambah daftar panjang insiden bunuh diri di Jawa Timur. Dalam tahun 2024 saja ada dua kasus menonjol di Kota Pahlawan, yaitu kasus mahasiswa Universitas Ciputra (UC) juga ditemukan tewas di halaman gedung kampus diduga bunuh diri pada Rabu (18/9/2024), dan kasus mahasiswa semester 3 terjun dari lantai 12 gedung UK Petra pada Selasa (1/10/2024).
BACA JUGA:Bek Asing Persebaya Leo Lelis Akui Kesalahan Usai Gol Bunuh Diri Lawan Borneo FC
Mini Kidi Wipes.--
Nurul Qomariah, M.Psi., Psikolog Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya menyoroti kasus tersebut. Untuk mencegah hal tersebut semakin meningkat, dia menyarankan Pemerintah Kota Surabaya agar menggencarkan sosialisasi layanan kesehatan mental yang dapat diakses secara gratis oleh oleh seseorang yang butuh pendampingan psikologi.
"Saat ini ada program pemerintah melalui Kementrian Kesehatan RI yaitu layanan sejiwa 119 extend (tekan angka) 8 ini adalah layanan darurat yang dapat diakses secara gratis. Selain itu di beberapa daerah terdapat komunitas kesehatan mental yang dapat membantu sebagai support group bagi siapapun yang membutuhkan," katanya, Kamis 26 Maret 2026.
BACA JUGA:Gercep, Polsek Ngawi Kota Gagalkan Percobaan Bunuh Diri Remaja di Jembatan Dungus
Gempur Rokok Ilegal -----
Namun menurut perempuan yang akrab disapa Rya ini bukanlah hal mudah. Tantangannya adalah stigma masyarakat tentang kesehatan mental. Perlu dilakukan secara masif informasi tentang kesehatan mental dan informasi layanan yang dapat dihubungi dalam situasi krisis pada masyarakat luas.
"Pemerintah dapat membantu memperkuat layanan kesehatan mental dari puskesmas serta memberikan kemudahan akses informasi. Selain akses informasi, pemerintah juga perlu mendukung adanya pemerataan psikolog maupun psikiater di puskesmas," terangnya.
BACA JUGA:Warga Gresik Dihebohkan Percobaan Bunuh Diri Seorang Wanita di Waduk Hulaan
Sementara menurut pengamatan Rya, seseorang yang memilih untuk mengakhiri hidup bukan berarti tidak melakukan upaya untuk menyelamatkan dirinya sebelumnya. Beberapa penelitian menyatakan bahwa seseorang yang mengalami kelelahan mental secara terus-menerus, dan tidak memiliki dukungan dari orang terdekat maupun lingkungan sekitar akan rentan terhadap risiko mengakhiri hidup.
"Orang yang rentan terhadap risiko mengakhiri hidup umumnya memiliki kesulitan untuk mengekspresikan emosinya, merasa tidak memiliki dukungan, merasa tidak ada orang yang bersedia mendengar, tingginya kekhawatiran terhadap stigma permasalahan mental membuat mereka menahan diri," jelasnya.
BACA JUGA:Terhimpit Ekonomi, Pemuda Balongpanggang Urungkan Niat Bunuh Diri Usai Curhat Kapolres Gresik
Permasalahan yang berkecimpung di kepala korban itu akhirnya mengalami ekskalasi, menumpuk. Beban korban semakin hari makin bertambah. Bagi yang tidak kuat menahan beban tersebut, mereka menganggap bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar yang mampu menyelesaikan masalah.