SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Masalah banjir masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemerintah Kota Surabaya. Hingga saat ini, tercatat masih terdapat 138 titik genangan di berbagai wilayah Kota Pahlawan yang memiliki durasi surut cukup lama.
Merespons kondisi tersebut, Panitia Khusus (Pansus) Pengendalian Banjir DPRD Kota Surabaya menekankan pentingnya pergeseran paradigma melalui penerapan Solusi Berbasis Alam.
BACA JUGA:Solusi Mudik Tenang, Jasa Cat Sitter dan Penitipan Kucing di Surabaya Banjir Order Jelang Lebaran
Mini Kidi Wipes.--
Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Eri Irawan, menyatakan bahwa salah satu poin krusial yang tengah dibahas dalam Pansus adalah optimalisasi pengendalian banjir yang tidak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik semata.
Eri menjelaskan bahwa selama ini perspektif penanganan banjir cenderung terpaku pada pembangunan saluran drainase secara terus-menerus.
Namun, di tengah cuaca ekstrem dan perubahan iklim, debit air yang sangat tinggi tidak akan sanggup ditampung hanya oleh saluran drainase atau sistem drainase konvensional saja.
"Solusi berbasis alam mencakup pembangunan sumur resapan, kolam retensi, kolam tampung, biopori, hingga optimalisasi waduk atau bozem. Tujuannya agar air tidak langsung lari ke drainase. Kita endapkan dan panen dulu airnya," ujar Eri.
Ia menjelaskan bahwa solusi ini bertujuan untuk berbagi peran dengan sistem drainase yang ada. Dengan metode ini, lanjutnya, beban sistem drainase dapat berkurang karena sebagian air terserap ke dalam tanah atau tertampung sementara di kolam-kolam retensi.
BACA JUGA:Merawat Harapan Pascabanjir, Jejak Pendampingan Teman Baik untuk Warga Aceh Tamiang
Selain mengurangi risiko banjir, langkah ini juga berfungsi meningkatkan cadangan air tanah di Surabaya.
Terkait penerapan biopori dan sumur resapan di pemukiman padat penduduk, Eri menekankan perlunya kajian geologis yang mendalam. Hal ini dikarenakan karakteristik tanah di Surabaya tidak seragam.
"Tidak semua jenis tanah cocok untuk sumur resapan. Ada tanah yang tingkat kejenuhannya sudah tinggi, sehingga jika dipaksakan, hasilnya tidak akan optimal. Inilah yang akan kita kaji lebih lanjut agar penempatannya tepat sasaran," tambahnya.
Gempur Rokok Ilegal -----