Rasa paksaan yang ada dalam menjalankan jurusan yang sudah ditentukan membuat anak merasa tak ada keterikatan istimewa di dalamnya. Pencapaian yang mereka dapatkan pun tidak membuat mereka merasa bangga karena hal tersebut hanya dianggap sebagai tuntutan semata.
Hal ini tentu bukan sesuatu yang sepele untuk diabaikan. Tanpa ada kesadaran, impostor syndrome ini akan menimbulkan hal yang lebih parah bagi sang anak.
Rasa keterpaksaan yang membuat mereka tidak mempercayai diri sendiri akan terus menerus menggerogoti rasa kepercayaan diri mereka. Mereka akan selalu ragu untuk melangkah atau mencoba peluang baru karena terus merasa diri mereka tidak pantas untuk melakukan hal tersebut.
Orang tua pun perlu menyadari soal hal ini, bahwasanya penentuan alur hidup yang mereka buat untuk sang anak belum tentu benar-benar hal yang disukai anak.
Perlu ada penurunan ego dari orang tua untuk membuka obrolan dua arah dan memberi ruang bagi sang anak agar menjadi dirinya sendiri.
Pada dasarnya, setiap anak memiliki potensi dan jalannya masing-masing. Namun, tanpa dukungan dan ruang untuk menentukan pilihan, potensi tersebut bisa tertutup oleh rasa ragu dan tidak percaya diri.
Gempur Rokok Ilegal -----
Impostor syndrome yang muncul bukan berarti anak tersebut tidak mampu, melainkan karena ia tidak merasa benar-benar “memiliki” apa yang dijalaninya.
Maka dari itu, penting untuk mulai membangun kesadaran bahwa keberhasilan bukan sekadar tuntutan, tetapi sesuatu yang layak dirayakan dan diakui sebagai hasil dari usaha diri sendiri. (Mg/Nabilla Fitri)