SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Salat Idulfitri memang hanya dilaksanakan satu hari, yaitu pada 1 Syawal. Namun, perayaan Lebaran sering kali masih berlangsung hingga satu minggu bahkan sampai satu bulan setelahnya.
BACA JUGA:Hidangan Khas Lebaran 2026: Ketupat dan Opor Ayam, Sarat Makna Filosofis
Setiap keluarga memiliki tradisi masing-masing, seperti silaturahmi dan halal bihalal, baik dengan keluarga maupun teman.
Mini Kidi Wipes.--
Salah satu tradisi yang tak pernah lepas dari masyarakat Jawa adalah Kupatan atau Lebaran Ketupat, yang dilaksanakan tepat satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri.
BACA JUGA:Jangan Dilewatkan! Ini Rekomendasi HP di Bawah Rp 5 Juta yang Cocok Dibeli Pakai THR Lebaran 2026
Tradisi ini bukan sekadar membuat ketupat atau makan bersama, melainkan memiliki filosofi mendalam dan sejarah yang panjang.
Dalam filosofi Jawa, kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan kepada orang tua maupun sesama. Selain itu, terdapat makna “laku papat” (empat tindakan), yaitu:
BACA JUGA:Bosan Setelah Silaturahmi Lebaran? Film ‘Na Willa’ Jadi Rekomendasi Tontonan Keluarga 2026
- Lebaran: berakhirnya waktu puasa Ramadan
- Luberan: meluber, simbol ajakan untuk bersedekah kepada fakir miskin
- Leburan: melebur dosa-dosa melalui saling memaafkan
- Laburan: menjaga kebersihan lahir dan batin agar kembali suci
BACA JUGA:Ide Caption Foto Lebaran yang Instagramable: Bikin Momen Hari Raya Makin Berkesan di Media Sosial
Tradisi Kupatan pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Beliau memperkenalkan dua momen Lebaran, yaitu Idulfitri dan Lebaran Kupat.