Surabaya, Memorandum.co.id - Pemkot kembali memberlakukan jam malam terhadap semua sektor usaha di Surabaya yang tertuang dalam peraturan Wali (Perwali) nomor 33 tahun 2020 Kota Surabaya tetang Pedoman Tatanan Normal Baru pada kondisi pandemi corona virus disease 2019 (covid-19). Penerapan jam malam dalam Perwali itu dikeluhkan sejumlah pedagang makanan di Jalan Kutisari. Penerepan jam malam ini pun mendapat sorotan dari anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, John Thamrun. Menurutnya, seharusnya semua sektor usaha tetap dibuka. Namun, yang terpenting menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Yang terpenting, kata John Thamrun, dari awal telah disebutkan bahwa pembatasan jam malam selayaknya tidak perlu dilakukan. "Penanganan masalah Covid-19 tidak hanya bisa diselesaikan dari sisi kesehatan. Akan tetapi juga masalah ekonomi juga menjadi perhatian kita semua," tegas John Thamrun, Selasa (21/7). "Saya tidak setuju ada pembatasan jam malam dalam sektor usaha. Perwali ini diterbitkan tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat," urainya. Surabaya sebagai kota kelas internasional, kata John Thamrun, tidak bisa hanya dilihat dari sisi kesehatan dengan mengabaikan sektor ekonomi, ini akan bermasalah. "Hemat saya tidak perlu ada pembatasan jam malam bagi sektor usaha. Yang terpenting semua pihak harus ketat melaksanakan protokol kesehatan," kata John. Seperti ketersedian tempat cuci tangan dengan sabun, selalu pakai masker, menyediakan thermogun, hand sanitizer. Kalau protokol kesehatan dilakukan dengan tertib maka tidak akan terjadi penyebaran covid-19. "Nanum kalau protokol kesehatan dilanggar bukan tidak mungkin kasus terkonfirmasi positif Covid akan bertambah. Intinya bukan pada pembatasan jam malam, tapi pada disiplinnya protokol kesehatan dilaksanakan," tukas John. Sehingga, Perwali ini dinilai tidak banyak membantu untuk menekan angka penyebaran covid-19 di Surabaya. "Harusnya kedisplinan protokol kesehatan yang diperketat pelaksanaannya," tandasnya. Salah satu pedagang makanan di Jalan Kutisari, Soermadji memohon jangan membuat peraturan jam malam seperti ini, kalau berjualan siang hari tidak mungkin bisa karena ramai banyak kendaraan lewat dan toko-toko buka. "Kalau bisa jangan membuat kebijakan jam malam lah, apalagi jalan-jalan banyak yang ditutup sehingga sepi," ucap Soermadji. Soermadji menjelaskan, kalau untuk penanganan covid-19 dinilai baik, tetapi untuk pedagang kalau bisa diberikan kelonggaran sampai jam 12 malam. "Tapi kita dapat imbauan disuruh tutup jam 10 malam," keluh Soermadji yang tidak mau dituliskan nama depotnya. Ia mengaku, biasanya berjualan mulai jam 7 malam hingga jam 2 dini hari tutup, sedangkan imbauannya disuruh tutup jam 10 malam, otomatis berjualan hanya 3 jam saja. "Mana mungkin kita berjualan hanya 3 saja, apalagi sekarang kondisinya lagi sepi banget," pungkasnya.(why)
Perwali 33/2020 Soal Jam Malam Dikeluhkan Pedagang
Selasa 21-07-2020,13:42 WIB
Reporter : Aziz Manna Memorandum
Editor : Aziz Manna Memorandum
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 07-09-2026,02:10 WIB
Aktivitas Anak Krakatau Turun, PVMBG Ingatkan Potensi Erupsi Susulan
Senin 07-09-2026,07:07 WIB
Ratusan Kader Lolos Gemblengan AMPG Jatim, Golkar Bidik Generasi Baru 2029
Senin 07-09-2026,09:31 WIB
Kisah Pilu PMI Jember, Meninggal Sebatang Kara di Musala Shah Alam
Senin 07-09-2026,15:22 WIB
Kredit Macet KPRI Sejahtera Capai Rp45 Miliar, Tim Penyelamat Sisir Debitur Jumbo
Senin 07-09-2026,08:07 WIB
Abu Vulkanik Anak Krakatau Ancam Penerbangan Pesawat, Dosen ITS: Mesin Bisa Mati di Udara
Terkini
Senin 07-09-2026,21:55 WIB
DPR Minta 21 Korporasi Terkait Karhutla Diproses Hukum
Senin 07-09-2026,21:34 WIB
Satgas Pangan Polda Jatim Usut Penjualan Beras Premium di Atas HET
Senin 07-09-2026,21:26 WIB
138 Tersangka Karhutla, Presiden Prabowo Minta Segera Laporan Nama Korporasi yang Terlibat
Senin 07-09-2026,21:17 WIB
Lahan 2.000 M² di Tanjung Lamongan Terbakar, Polisi dan Damkar Gercep Padamkan Api
Senin 07-09-2026,21:14 WIB