Wahyu dan Mesiu

Jumat 06-03-2026,08:00 WIB
Reporter : Fatkhul Aziz
Editor : Fatkhul Aziz

Di sebuah gua yang sunyi, 1.400 tahun silam, kata-kata pertama jatuh seperti tetes air di atas batu yang haus. Iqra’. Bacalah.

Nuzulul Quran bukan sekadar peristiwa turunnya teks, melainkan momen ketika Yang Ilahi menyentuh yang fana, ketika keheningan langit pecah oleh tuntutan agar manusia mengenali dirinya dan Tuhannya. Namun, hari ini, di langit Timur Tengah yang sama, yang jatuh bukanlah wahyu, melainkan logam panas dan kehancuran.

BACA JUGA:Niaga Nyawa


Mini Kidi Wipes.--

Kita memperingati turunnya Kitab Suci di tengah gemuruh yang tak suci. Ada ironi yang getir ketika ayat-ayat tentang kedamaian dibacakan di balik bunker, sementara di luar sana, geopolitik berubah menjadi monster yang lapar.

Lanskap yang Terbakar: Dari Tel Aviv hingga Teheran, dari pangkalan Amerika di gurun-gurun sunyi hingga instalasi nuklir di Isfahan, geografi bukan lagi tempat bernaung, melainkan papan catur maut.

BACA JUGA:Puasa dan Seni Merasa Cukup

Logika Kekerasan: Ketika Israel dan Amerika Serikat meluncurkan serangan langsung, dan Iran membalas dengan api yang menjalar ke seluruh kawasan, kita melihat sebuah peradaban yang seolah lupa cara "membaca"—lupa pada esensi Iqra’ yang menuntut permenungan, bukan sekadar pembalasan.

Nuzulul Quran mengajarkan bahwa kebenaran diturunkan untuk memanusiakan manusia. Namun, dalam perang yang membabi buta ini, manusia hanyalah statistik.

"Sejarah," tulis seorang penyair, "seringkali ditulis dengan tinta yang bercampur darah."


Gempur Rokok Illegal--

Di bawah langit yang merah oleh rudal, Alquran yang kita muliakan malam ini seolah-olah sedang menangis. Di sana, di tanah tempat para Nabi berjalan, "keadilan" seringkali hanya menjadi bungkus bagi syahwat kekuasaan. Amerika dengan hegemoninya, Israel dengan traumanya yang berubah jadi agresi, dan Iran dengan perlawanan yang juga mematikan—ketiganya terjebak dalam lingkaran setan yang tak mengenal titik henti.

Mungkin, merayakan Nuzulul Quran tahun ini berarti berani bertanya: di manakah posisi firman Tuhan di tengah deru mesin perang? Jika Alquran adalah Hudan lin-nas (petunjuk bagi manusia), maka kegelapan di Gaza, Beirut, dan Teheran adalah bukti betapa jauhnya kita telah tersesat dari kompas itu.

Kita butuh lebih dari sekadar seremoni. Kita butuh sebuah "Malam Kemuliaan" yang mampu menghentikan jemari di atas pelatuk. Sebab, pada akhirnya, tak ada kemenangan dalam perang yang menghanguskan rumah Tuhan sendiri.

Kategori :