KAMPUS itu berdiri gagah. Di gerbangnya mungkin ada tulisan tentang akhlak.
Tentang ilmu. Tentang masa depan.
BACA JUGA:Baja untuk Bocah
Lalu datanglah kapak.
Cinta memang buta. Itu pepatah lama.
BACA JUGA:Polisi Lagi Dicoba atau Justru Sedang Mencoba?
Tapi pepatah itu mungkin belum sempat kuliah.
Di sebuah kampus Islam di Riau, seorang mahasiswa tak terima dianggap “hanya teman”. Kata “hanya” rupanya lebih tajam dari parang. Status TTM yang menggantung rupanya lebih menyakitkan dari revisi proposal.
BACA JUGA:Ketika Tertawa Tidak Lagi Gratis
Si mahasiswi sedang menunggu antrean sidang sempro. Seminar proposal. Tahap awal menuju sarjana. Biasanya yang bikin deg-degan adalah pertanyaan dosen penguji: “Apa urgensi penelitian Anda?”
Tapi kali ini, yang datang bukan penguji.
BACA JUGA:Membela Istri Bisa Menggugurkan Jabatan
Yang datang adalah kemarahan. Dengan kapak dan parang.
Ini bukan drama Korea.
Ini bukan sinetron azab.