Panduan Lari saat Puasa Ramadan 2026: Waktu Terbaik, Intensitas Ideal, dan Tips agar Tetap Fit

Selasa 03-03-2026,16:48 WIB
Reporter : Mg/Luthfi Rahmanda
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Pada fase ini, kadar gula darah relatif stabil sehingga latihan dapat dilakukan dengan intensitas lebih tinggi dibanding sebelum berbuka. 

Latihan seperti tempo run, interval ringan, atau lari jarak menengah dapat dilakukan dengan aman. Selain itu, suhu udara malam hari yang lebih sejuk juga membantu menjaga performa dan kenyamanan saat berlari.

Bagi yang terbiasa berolahraga pagi, lari setelah sahur juga dapat menjadi pilihan, meskipun membutuhkan perhatian ekstra. 

Idealnya, lari dilakukan sekitar 30–60 menit setelah makan sahur agar proses pencernaan tidak terganggu. Namun, karena tubuh tidak akan menerima cairan kembali hingga waktu berbuka, intensitas latihan harus sangat ringan. 

BACA JUGA:Tips Aman Olahraga saat Puasa Ramadan, Tetap Bugar Tanpa Dehidrasi

Jenis latihan yang cocok pada waktu ini adalah recovery run atau jalan cepat dengan durasi singkat. Pelari juga perlu memastikan konsumsi air dan elektrolit cukup saat sahur untuk mengurangi risiko dehidrasi sepanjang hari.

Sebaliknya, waktu yang paling tidak dianjurkan untuk berlari adalah siang hingga sore hari, terutama antara pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB. 

Pada periode ini, suhu lingkungan cenderung tinggi sementara cadangan cairan tubuh terus menurun. Aktivitas fisik berat pada jam tersebut dapat meningkatkan risiko pusing, kelelahan, hingga heat exhaustion. 

Jika tetap ingin bergerak aktif, latihan ringan di dalam ruangan seperti treadmill dengan intensitas rendah menjadi pilihan yang lebih aman. Selain memilih waktu yang tepat, pelari juga perlu menyesuaikan intensitas latihan selama Ramadan. 

BACA JUGA:Berlari atau Berjalan? Temukan Cara Terbaik Bakar Lemak dan Turunkan Berat Badan Cepat!

Banyak ahli olahraga merekomendasikan pengurangan volume latihan sekitar 20–30 persen dibanding hari biasa. Fokus utama selama bulan puasa adalah menjaga konsistensi aktivitas fisik tanpa memaksakan tubuh. 

Mendengarkan sinyal tubuh menjadi hal penting; jika muncul gejala seperti pusing, lemah, atau detak jantung tidak stabil, latihan sebaiknya segera dihentikan. Asupan nutrisi juga memegang peranan penting dalam menunjang aktivitas lari selama Ramadan. 

Saat berbuka, tubuh membutuhkan kombinasi karbohidrat sederhana untuk pemulihan energi cepat, protein untuk memperbaiki otot, serta cairan yang cukup untuk rehidrasi. 

Sementara itu, menu sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, serat, dan protein agar energi bertahan lebih lama sepanjang hari. Pada akhirnya, olahraga lari di bulan Ramadan tetap aman dilakukan selama dilakukan dengan strategi yang tepat. 


Gempur Rokok Illegal--

Memilih waktu latihan yang sesuai, menjaga intensitas, serta memperhatikan kebutuhan cairan dan nutrisi akan membantu tubuh tetap bugar tanpa mengganggu ibadah puasa. 

Kategori :