Selalu Ibu yang Didahulukan: Ketika Nafkah Bukan Untukku (1)

Sabtu 28-02-2026,09:00 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Namun tanpa sadar, ia mulai mengecewakan perempuan yang hidup bersamanya setiap hari.

Suatu sore, ibu Bintang menelepon dengan nada khawatir. “Kamu nggak usah terlalu banyak kirim, Nak. Ibu masih bisa cukup.”

Bintang terdiam. Untuk pertama kalinya ia sadar, mungkin selama ini ia bukan sedang menolong—ia sedang merasa wajib membuktikan sesuatu.

Malam itu, Bulan berkata dengan jujur, “Aku nggak mau kamu memilih antara aku dan Ibumu. Aku cuma mau kita punya batas yang sehat. Nafkah itu amanah. Kita harus kuat dulu supaya bisa bantu orang lain.”

Bintang menatap istrinya lama. Ia menyadari satu hal yang selama ini luput: berbakti tidak pernah berarti mengabaikan.

Dalam banyak rumah tangga, konflik bukan soal siapa yang lebih penting. Tapi soal bagaimana seseorang belajar membagi tanggung jawab tanpa membuat satu pihak merasa selalu nomor dua.


Gempur Rokok Illegal--

Dan di rumah kecil itu, Bintang akhirnya belajar bahwa menjadi anak yang baik tidak boleh membuatnya lupa menjadi suami yang adil.

Karena cinta kepada ibu adalah kewajiban.

Namun keadilan kepada istri adalah tanggung jawab yang tak bisa ditunda.

Kategori :