Gaya baru bermunculan. Selera bergeser. Dan diam-diam mereka juga bertanya, apakah saya masih dibutuhkan?
Sementara junior pun tidak kalah gelisah. Takut terlalu lambat. Takut dianggap belum bisa apa-apa. Takut setiap bukber atau pertemuan berubah jadi momen evaluasi.
Akhirnya, meja bukber menjadi tempat dua kecemasan bertemu. Yang satu takut dilupakan. Yang satu takut belum diakui.
Dan kita semua pura-pura santai sambil merokok hahaha.
Padahal bukber seharusnya ruang istirahat. Ruang nostalgia. Ruang untuk tertawa. Ruang untuk mengingat bahwa kita dulu memulai bukan demi disebut-sebut, tapi demi berkarya.
Karena setelah semua pulang, senior tetap harus menghadapi prosesnya. Junior tetap harus bergulat dengan keraguannya. Karya tetap lahir dari ruang sunyi, bukan dari meja bukber. (Mg/Rifqi Syihab)