DATANGNYA bulan suci Ramadan 1447 H pada tahun ini, berbagai kisah menyentuh hati tentang pencarian spiritual kembali bermunculan.
Salah satunya datang dari Berliana Murphi (30), warga Banyuurip Lor, Surabaya, yang membagikan kisah inspiratifnya bertransisi dari pemeluk Kristen Protestan hingga akhirnya mantap memeluk Islam.
BACA JUGA:Merinding Baca Syahadat, Kisah Perjalanan Spiritual Angga Wibisono Jadi Mualaf
Bagi perempuan yang akrab disapa Berli ini, jalan menuju mualaf bukanlah sebuah proses instan. Langkah tersebut merupakan rangkaian panjang perjalanan spiritual dan kerinduan akan ketenangan batin.
Berli tumbuh dalam lingkungan keluarga yang unik. Meski kedua orang tuanya telah memeluk Islam sejak ia duduk di bangku SMP, Berli dan kakaknya tetap setia pada ajaran Kristen yang mereka terima sejak kecil.
BACA JUGA:Lia Istifhama Raih DMI Award 2026, Apresiasi Inovasi Mualaf Center di Gresik
Namun, memasuki masa perkuliahan, Berli mengaku mulai menjauh dari rutinitas ibadah ke gereja. Dalam kebimbangannya, ia sempat melewati masa-masa penuh perenungan.
Bahkan setelah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang mapan, Berli masih merasa bimbang antara mempertahankan keyakinan lamanya atau mengikuti jejak orang tuanya.
Titik balik terbesar Berli terjadi melalui sebuah percakapan jujur dengan almarhumah ibundanya. Sebagai anak bungsu, ia memberanikan diri bertanya mengenai harapan sang ibu terhadap keyakinannya.
Jawaban sang ibu yang sederhana rupanya membekas sangat dalam dan meruntuhkan keraguannya. Sejak saat itu, ia meyakinkan diri menjadikan Islam sebagai pedoman hidup.
Menjadi seorang mualaf membawa tantangan tersendiri bagi Berli. Perubahan drastis dari rutinitas ibadah mingguan menjadi lima kali sehari diakuinya sebagai penyesuaian terbesar.
"Tantangan terbesar adalah menjalankan salat. Biasanya hanya satu kali seminggu, sekarang harus lima kali sehari. Saya juga harus belajar wudu yang benar dan menghafal surat-surat pendek yang bahasanya sama sekali tidak saya mengerti," ungkap Berli.
Beruntung, ia tidak berjuang sendiri. Selain bimbingan mendiang ibunya, sosok pasangan setianya kini menjadi guru mengaji pribadi yang membimbingnya belajar dari dasar melalui metode Iqra.
Mengingat pengalaman Ramadan pertamanya, Berli mengaku sempat merasa berat saat menjalani puasa. Namun, semua rasa lelah itu terbayar dengan momen emosional saat melaksanakan salat Id di masjid dekat rumah neneknya.
"Momen itu saya sampai menangis karena merasa sangat nyaman," ujarnya lirih.