KDRT Masih Marak di Jatim, Bukti Budaya Patriarki Mengakar

Rabu 04-02-2026,07:00 WIB
Reporter : Wendy Setiawan
Editor : Muhammad Ridho

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Tewasnya ibu rumah tangga di Desa Boro, Selorejo, Kabupaten Blitar dengan kondisi banyak luka lebam jadi sorotan berbagai pihak. Korban diduga mengalami KDRT sebelum tewas.


Mini Kidi--

Praktisi Psikolog Surabaya, Riza Wahyuni, S.Psi., MSi., angkat bicara mengenai fenomena angka KDRT yang disebutnya mengalami lonjakan di Jawa Timur. Menurutnya, aksi kekerasan tersebut disebabkan melekatnya budaya patriarki yang dibalut dengan agama.

"Jadi artinya suami lebih dominan. Suami adalah penentu kebijakan dalam rumah tangga. Patriarki yang dikontekskan tidak adil bagi istri. Dimana istri harus nurut apa kata suami. Kalau gak nurut, istri durhaka. Mereka banyak menggunakan patriarki ini dengan dalih agama," katanya, Rabu 4 Februari 2026.

BACA JUGA:Korban KDRT di Surabaya Jadi Tersangka Tapi Tak Ditahan, Begini Alasan Polisi

Sementara untuk saat ini, faktor KDRT yang sering Riza temukan di lapangan adalah maraknya perjudian online yang kemudian menyebabkan seseorang itu melakukan pinjaman online (Pinjol).

"Kalau orang judi online itu jadi penasaran. Dia berambisi nanti bisa menang. Padahal realitanya tidak ada sejarah orang berjudi itu bisa kaya. Tapi namanya dia sudah addiction (kecanduan)," lanjutnya.

BACA JUGA:Pendamping Hukum Alvirdo Sebut Irene Tendang Kliennya dalam Kasus KDRT Surabaya

Hal ini diperparah dengan mudahnya seseorang melakukan Pinjol. Banyak Pinjol yang cukup dengan data diri saja sudah bisa melakukan pencairan, tanpa survei ke lokasi. Khususnya Pinjol ilegal yang tidak terdaftar dalam otoritas jasa keuangan (OJK). 

"Ketika kesulitan membayar, nah disitulah terjadi problem. Ekonomi kita tahu bahwa ada pengangguran. Banyak PHK, daya juang hidup yang tidak terlalu tinggi. Sehingga dia tidak bertanggungjawab dengan kehidupan keluarganya," paparnya.

BACA JUGA:Ditetapkan Jadi Tersangka, Irene Gloria Korban KDRT Mangkir dari Panggilan Polisi

Ketika sang istri menegur suaminya, disitulah kerap terjadi kekerasan. Baik kekerasan verbal berupa kata-kata kasar, hingga kekerasan fisik berupa pemukulan. Bahkan sampai berujung penelantaran ekonomi. Suami tidak menafkahi istri dan anaknya. 

"Mereka yang mengalami kekerasan itu pertama yang paling penting adalah mendapat dukungan dari keluarga terdekat. Entah itu orang tua, saudara tanpa menghakimi mereka. Itu penting sekali," ungkapnya.

BACA JUGA:Polrestabes Surabaya Tetapkan Korban KDRT Jadi Tersangka

Menurut Riza, ketika korban butuh di dengar oleh keluarganya, artinya dia sudah lelah dengan apa yang ia hadapi. Maka, ketika korban datang kepada keluarga hanya sekadar untuk bercerita, sebaiknya didengarkan dan dibantu mencari jalan keluar.

Kategori :