Antara Seragam dan Kesabaran

Kamis 29-01-2026,07:51 WIB
Reporter : Muhammad Ridho
Editor : Muhammad Ridho

Masyarakat luas mungkin tidak akan pernah mendengar nama Bapak Suderajat.

Ia adalah salah satu dari ribuan pejuang nafkah, yang setiap harinya bertarung dengan terik matahari, memikul gerobak tua berisi es gabus pelangi. 

Baginya, nama besar bukanlah tujuan, cukup baginya melihat senyum anak-anak yang menikmati kesegaran es buatannya, dan membawa pulang beberapa keping rupiah untuk keluarga di rumah.

BACA JUGA:Polisi Mau Pulang ke Mana


Mini Kidi--

Namun, takdir memiliki cara yang unik untuk memperkenalkan seseorang kepada dunia. 

Kadang, ia tidak datang melalui karpet merah, melainkan melalui ujian yang menyesakkan dada.

Publik mulai menoleh kepada Suderajat bukan karena keberhasilannya, melainkan karena sebuah tuduhan kejam yang sempat melukai martabatnya. 

BACA JUGA:Rezeki Memang Tak Pernah Salah Alamat

Sebuah rekaman video memperlihatkan dirinya yang tersudut, dituduh oleh oknum aparat bahwa es gabus miliknya berbahan dasar spon atau busa sintetis.

Hinaan pedas dilontarkan, es gabus buatannya dituduh sebagai benda tak layak konsumsi.

Siapa yang menyangka bahwa kepungan seragam itu justru menjadi jalan Allah untuk menunjukkan jati dirinya.

Dunia akhirnya melihat bahwa di balik tuduhan "spon" yang konyol itu, ada seorang lelaki tulus yang sedang dicoba oleh Langit.

BACA JUGA:Tindak Tegas Curanmor: Perlu, Tapi Jangan Berhenti di Represif

Kini, orang tidak lagi mengingat peristiwa itu sebagai saat Suderajat diadili, melainkan saat Allah mengangkat derajatnya justru dari tempat di mana ia paling direndahkan. 

Kategori :