SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Warga RT 06/RW 01 Gang Anggrek 2 Kelurahan Karangpilang, Surabaya, berhasil mentransformasi bantaran sungai yang kumuh dan terancam gusur menjadi Kampung SSC atau Sat Set Cuan yang asri dan inovatif, Senin 19 Januari 2026.
BACA JUGA:Menyusuri Jejak Kampung Kerupuk Sukolilo Baru, Eksis Sejak Era 90-an
Kesadaran menjaga lingkungan bantaran sungai tumbuh melalui kegigihan warga yang mengandalkan iuran swadaya untuk menata kawasan yang sebelumnya kotor dan tidak teratur.
Mini Kidi--
Perubahan tersebut bermula pada 2014 saat kondisi permukiman sangat memprihatinkan karena jarak rumah warga hanya sekitar satu meter dari bibir sungai.
BACA JUGA:Keberadaan Pasar Tradisional Unik di Kampung Legenda Lidah Kulon Surabaya
Aktivitas mandi dan mencuci dilakukan langsung di sungai sehingga kawasan tersebut kerap mendapat sorotan sebagai permukiman kumuh. Kondisi itu sempat memunculkan isu penggusuran, namun di bawah kepemimpinan Ketua RT 06 Miswanto Rahayu, warga memilih bergerak mandiri menata kampung.
BACA JUGA:Kampung Wisata Ekoriparian Geblak Jambangan, Berawal dari Kumuh Menjadi Kampung Percontohan
"Waktu itu warga panik karena ada isu penggusuran. Kami mediasi ke DPRD dan menemui Pak Armuji, ternyata hanya isu. Dari situ kami berpikir kalau tidak bergerak, penggusuran bisa jadi kenyataan," kenang Miswanto.
Warga kemudian memangkas bangunan rumah yang menjorok ke sungai dengan jarak lima meter dari bibir sungai.
BACA JUGA:Mengenal Lebih Dekat Sejarah Kampung Lontong Surabaya
Lahan tersebut dimanfaatkan tiga meter untuk jalan paving dan dua meter untuk penghijauan di sepanjang bantaran sungai. Kini kondisi Kampung SSC berubah total, jalan yang sebelumnya berlumpur saat hujan telah rapi dipaving dan kerap digunakan untuk berbagai kegiatan warga.
BACA JUGA:Lestarikan Budaya Suroboyoan, Kampung Parikan Morokrembangan Jadi Ikon Budaya Lokal
Selain ditanami pohon nangka, bantaran sungai juga dimanfaatkan untuk kebun hidroponik yang dikelola warga. Warga menanam sayur pakcoy secara hidroponik yang hasilnya dijual segar serta diolah oleh ibu-ibu PKK menjadi es krim sehat.
BACA JUGA:Mengenal Kampung Ketandan, Saksi Bisu Sejarah Kota Surabaya