Ribuan Santri Padati Mapolres Malang, PCNU Sampaikan Boikot Trans7

Jumat 17-10-2025,17:57 WIB
Reporter : Achmad Tauchid
Editor : Ferry Ardi Setiawan

1. Mengutuk keras tayangan di stasiun televisi TRANS7 yang memuat narasi dan adegan yang menyudutkan santri, kiai, dan pesantren sebagai bentuk pelecehan terhadap simbol-simbol keagamaan Islam dan penghinaan terhadap institusi pendidikan keagamaan.

2. Menuntut pemilik Trans7 Choirul Tanjung) datang langsung dan meminta maaf kepada Romo KH Anwar Mansur di Lirboyo dan manajemen TRANS7 serta pihak yang terlibat dalam produksi tayangan tersebut untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan langsung kepada publik, khususnya kepada komunitas santri, kiai, dan pesantren di seluruh Indonesia, melalui media nasional dan seluruh kanal resmi TRANS7.

3. Menuntut Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk segera melakukan penyelidikan dan menjatuhkan sanksi administratif serta etik seberat-beratnya kepada TRANS7 atas pelanggaran prinsip jurnalistik dan penyiaran yang terjadi.

4. Mendorong aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti kasus ini dengan menggunakan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta UU ITE, mengingat adanya unsur ujaran kebencian, penghinaan terhadap kelompok keagamaan, dan penyebaran konten yang menimbulkan keresahan sosial.

5. Menuntut penghentian operasional dan pencabutan izin siar TRANS7 oleh pemerintah, apabila dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak pernyataan ini dikeluarkan, pihak manajemen TRANS7 tidak menunjukkan itikad baik dengan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan melakukan koreksi atas tayangan tersebut.

6. Menginstruksikan kepada seluruh kader NU dan kalangan santri di Kabupaten Malang untuk tetap menjaga ketertiban, namun tetap bersatu menyuarakan perlawanan moral dan hukum terhadap segala bentuk penghinaan terhadap kiai, santri, dan pesantren.

 

PCNU Kabupaten Malang menegaskan bahwa santri, kiai, dan pesantren merupakan benteng moral bangsa yang berperan penting dalam kemerdekaan dan keutuhan NKRI.

“Kami bukan hanya membela pesantren, tapi membela akal sehat dan nurani bangsa,” tutup Gus Hamim Kholili. (kid)

Kategori :