"Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar," sabda Nabi usai pulang dari Perang Tabuk. Mereka bertanya: "apakah jihad yang lebih besar itu, wahai nabi." Beliau menjawab, "jihad hati" (HR Baihaqi). Jihad hati: perang melawan hawa nafsu. Seberapa berat? Berat sekali. Hati inilah pengendali utama tingkah laku kita. Sedang enak-enaknya ber-HP, istri tiba-tiba meminta kita untuk menemaninya ke pasar. Sabarkah kita? Berhenti di lampu merah, tiba-tiba ditabrak dari belakang, bertengkarkah kita? Sudah bertekad bulat mudik, disuruh putar balik, ngamuk. Sukseskah latihan bersabarnya? Itu bab kesabaran. Lain lagi dengan ikhlas. Lagi ke mall, seperti biasa HP tak pernah lupa, selalu berada di tangan, begitu milih-milih baju, lupa HP tergeletak di mana? Hilang. Ikhlaskah kita? Motor diparkir depan supermarket, hanya 5 menit, balik, sudah raib. Ikhlaskah kita? Suami atau istri yang menemani kita puluhan tahun mendahului kita, ikhlaskah kita? Membayangkan saja berat, apalagi menjalani? Maka, kita memahami bagaimana dua presiden kita begitu berat kehilangan the first lady: Pak Habibie dan Pak SBY. Hati juga diberi dua pilihan oleh Allah: Fujuroha (jalan kemaksiatan), wataqwaha (dan jalan kebaikan). Bagaimanakah hati kita memilihnya? Sementara godaannya begitu besar. Mau bangun jam 3 pagi saja seperti di-training-kan selama puasa ini, hati kita menawar, 15 menit lagi. Begitu tawaran ini kita terima, sudah pasti ambyar. Habit bangun jam 3 yang dilatih selama puasa, gagal total. Dengar adzan, sedang asyik HPan. Ditawar apa? Nanti saja, nunggu qomat. Akhirnya kehilangan rawatibnya, qobliyahnya. Atau bahkan kehilangan rokaat pertamanya. Lalu ngaji Qur'an. Perbincangan kita masih: sudah katam berapa kali? Sudah one day one juz belum. Sudah ikut grup kataman mana saja. Perbincangan tentang membaca apa, maknanya apa, masih langka. Padahal, Quran adalah way of life. Bagaimana kita mengetahui "kita disuruh apa" atau "dilarang apa" atau "diberi ibrah apa" tanpa membaca maknanya? Saatnya, perbincangannya sudah: one day, one ayat plus maknanya. Atau lebih dari itu. Dan ini yang tersulit, sholat kita. Sudah bereskah hati kita menanganinya? Rata-rata ukuran yang kita gunakan masih: sholat tepat waktu, berjamaah, lalu khusyuk. Padahal ada KPI (key performance indicators) lainnya yang sangat berat. Yakni: Al-Ankabut 45 bahwa ukuran keberhasilan sholat kita adalah: tanha 'anil fahsyai wal munkar. Harus bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Jadi pertanyaan kita: apakah sholat kita sudah membuat kita "zero maksiat"? Kalau sudah: congratulation, selamat. Anda sudah lolos menjadi muslim yang kaffah. Seratus persen amal sholeh, nol persen maksiat. Sangat layak Anda mendapatkan ucapan "Selamat Meraih Kemenangan." Barokalloh. 22 Mei 2020, ba'da Asyar Oleh: Ali Murtadlo Presented by: Kabar Gembira Indonesia (KGI) http://kabargembiraindonesia.com/
Welcome Hari Kemenangan, Menang Apa? Kalahkan Apa?
Jumat 22-05-2020,17:15 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 17-04-2026,07:07 WIB
Cancel Terapis di Lokasi Setelah Lihat Foto, Soapland Massage Kenakan Cas Rp100 Ribu
Jumat 17-04-2026,00:03 WIB
Stok Energi Aman, Harga BBM Subsidi Dipastikan Stabil hingga Akhir 2026
Kamis 16-04-2026,23:16 WIB
Produksi Susu Sapi Boyolali Naik Empat Kali Lipat, Suplai Capai 2.000 Liter Per Hari
Kamis 16-04-2026,21:42 WIB
Kebakaran Pabrik Selotip Margomulyo Surabaya Merembet ke Dua Gudang Lain
Kamis 16-04-2026,20:43 WIB
Wali Kota Eri Targetkan 10 Ribu Pelari Dorong Ekonomi Surabaya
Terkini
Jumat 17-04-2026,19:55 WIB
Halalbihalal Peradi Malang dan Kepanjen Tekankan Integritas Advokat
Jumat 17-04-2026,19:49 WIB
500 Porsi MBG Polresta Malang Kota Ludes dalam 30 Menit
Jumat 17-04-2026,19:47 WIB
Hunian Layak dari Prabowo Jadi Harapan Warga Bantaran Rel, Rezeki bagi Pekerja Proyek
Jumat 17-04-2026,19:39 WIB
Revitalisasi Jembatan Era Kolonial di Kranggan Klaten Buka Akses Vital Warga hingga ke Yogyakarta
Jumat 17-04-2026,19:10 WIB