iklan umroh banner
iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

PMI Hadir Sembuhkan Luka Batin Siswa SDK Gawalea Pascagempa

  PMI Hadir Sembuhkan Luka Batin Siswa SDK Gawalea Pascagempa

Elvana Kusdijanto, anggota tim PSS PMI Pusat utusan PMI Kabupaten Jember.--

JEMBER, MEMORANDUM.CO.ID — Bencana gempa bumi tidak hanya meretakkan dinding-dinding bangunan, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi mereka yang melaluinya. Memahami rentannya trauma tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) mengutus Tim Psychosocial Support (PSS) untuk merawat kesehatan mental para siswa dan guru di SDK Gawalea, Kelurahan Ulupulu, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Aksi kemanusiaan ini menjadi bagian dari rangkaian pendampingan psikososial PMI di NTT yang terus berlanjut hingga ke berbagai titik lokasi terdampak lainnya.

Sebanyak 86 siswa dan 7 guru larut dalam suasana hangat penuh keceriaan. Kegiatan yang dirancang ramah anak ini diawali dengan bernyanyi bersama, sebelum akhirnya para siswa dibagi ke dalam kelompok aktivitas sesuai usianya.

“Suasana kegiatan dibuat menyenangkan dan ramah anak. Mereka sangat antusias mengikuti tiap sesinya,” ujar Elvana Kusdijanto, anggota tim PSS PMI Pusat utusan PMI Kabupaten JEMBER. Rabu 7 Oktober 2026.

Anak-anak kelas 1–3 diajak menggoreskan warna dalam sesi mewarnai, sementara murid kelas 4–6 mengekspresikan imajinasi mereka lewat menggambar. Di balik kertas dan krayon itu, relawan PMI membuka ruang aman bagi anak-anak untuk bermain, meluapkan emosi, serta menceritakan bayang-bayang ketakutan yang masih membekas pascagempa.

Dari lembar cerita mereka, terungkap bahwa bayangan gempa susulan masih kerap membayangi. Bahkan, tiga siswa kelas bawah harus merelakan rumah mereka rusak dihantam guncangan. Namun hebatnya, tawa dan binar semangat tetap terpancar dari wajah polos mereka untuk hadir di sekolah.

Guna melengkapi pendampingan, relawan juga menyelipkan edukasi perlindungan anak (safeguarding) bagi murid kelas bawah melalui lagu interaktif “Sentuhan Boleh dan Sentuhan Tidak Boleh”. Metode sederhana ini mengajarkan anak-anak cara mengenali batasan tubuh dan melindungi diri dengan cara yang menyenangkan.

Tidak hanya anak-anak, para pendidik pun mendapatkan ruang untuk memulihkan diri. Dalam sesi berbagi, beberapa guru mengaku kerap tersentak kaget saat mendengar suara keras. Deru mesin truk yang melintas sering kali memicu ingatan traumatis akan gemuruh gempa bumi.

Kehadiran Tim PSS PMI yang beranggotakan kolaborasi relawan pusat dan daerah—Elvana Kusdijanto (PMI JEMBER), Farah Putri A (PMI Jakarta Timur), serta Angelina Marici Ema dan Laurentia Brindrisa Mogi (PMI Nagekeo)—disambut haru dan terbuka oleh pihak sekolah, mengingat layanan kesehatan jiwa seperti ini belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Bagi PMI, memulihkan kawasan terdampak bencana tak sekadar menyusun kembali puing dan batu bata yang runtuh. Lebih dari itu, pemulihan sejati adalah tentang merawat jiwa yang terluka, membangkitkan rasa aman, serta mengembalikan harapan warga untuk menatap esok hari. (edy)

Sumber: