iklan umroh banner
iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Cinta Menyamar Jadi Ketakutan (1): Ilusi Kelembutan yang Menoreh Luka

Cinta Menyamar Jadi Ketakutan (1): Ilusi Kelembutan yang Menoreh Luka

-Ilustrasi-

Di bawah lindungan malam yang lebam, waktu merambat dingin di ambang batas waktu. Pukul dua dini hari, ketika senyap mengendap bersama debu-debu kesepian, layar ponsel itu menyala. Ia bergetar halus—sebuah interupsi yang tak diundang.

Elang.

Titi menatap pendar pucat itu. Jemarinya membeku, enggan menyentuh layar. Ia membiarkannya bisu. Namun detik-detik terus meluncur, dan pesan-pesan singkat menjelma serangkaian bayang-bayang yang merayap masuk ke dalam kamar.

“Ti, aku gak bisa tidur.”


Mini kidi--

Lalu, sebuah susulan: “Aku cuma mau bicara sebentar.”

BACA JUGA:Bayang Cinta Tanpa Kepastian (6): Garis Batas yang Harus Diikhlaskan

Dan akhirnya, deretan kata yang menagih simpati: “Aku gak ngerti kenapa kamu bisa hidup biasa sementara aku seperti ini.”

Titi membaca setiap baris kalimat itu tanpa berniat memberi balasan. Bukan karena hatinya telah mengeras menjadi batu. Justru sebaliknya: ia telah terlalu lama menguras kepeduliannya, merawat orang lain hingga lupa merawat jiwanya sendiri yang hancur berkeping-keping.

Kisah di antara mereka sebenarnya telah tandas. Usai. Setelah perkelahian yang melelahkan, makian yang melukai, dan kekerasan yang menorehkan trauma mendalam, Titi akhirnya melangkah pergi. Ia meloloskan diri dari labirin yang melelahkan itu.

BACA JUGA:Bayang Cinta Tanpa Kepastian (5): Pengakuan Pahit yang Menghancurkan Segalanya

Keputusan itu tentulah tidak lahir dengan mudah. Elang bukan sekadar sosok yang meninggalkan bekas luka; pria itu juga menyimpan ingatan tentang kebaikan yang pernah menetas di masa lalu. 

Saat Titi belum berpenghasilan, Elang ada di sana, mengulurkan tangan dan menyuntikkan semangat. Ketika sakit mendera, perhatian Elang menjelma penawar. Saat masalah datang bertubi-tubi, Elang selalu menjadi yang pertama mengetuk pintu.

Atas nama masa lalu itulah Titi bertahan sekian lama. Ia hidup dalam ilusi, mengira kelembutan Elang suatu hari nanti bakal menundukkan perangai kasarnya. Namun harap hanyalah kenangan yang menolak padam.

Sumber:

Berita Terkait